Skip to content →

Serangan Israel Semakin Membabi Buta Setelah AS Gunakan Veto

journalofserviceclimatology.org – Israel tampaknya meningkatkan agresinya dengan melancarkan serangan serius di berbagai bagian Jalur Gaza menggunakan serangan udara dan artileri. Hal ini terjadi setelah Amerika Serikat memblokir inisiatif PBB untuk mengadakan gencatan senjata kemanusiaan di wilayah tersebut pada hari Jumat (8/12/2023). Tindak lanjut ini disebut-sebut sebagai tindakan tanpa belas kasihan dari pihak Israel yang dipersepsi sebagai entitas kolonial.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menggunakan wewenang yang diberikan oleh Artikel 99 dari Piagam PBB untuk pertama kalinya, menyoroti situasi di Gaza sebagai ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan global. Guterres menyuarakan keprihatinan mendalam tentang potensi bencana kemanusiaan yang dapat terjadi di Gaza.

Dalam pembelaannya, Wakil Duta Besar AS, Robert Wood, berpendapat bahwa menghentikan operasi militer akan memberikan kesempatan bagi Hamas untuk mempertahankan dominasi di Gaza, yang mungkin akan menanamkan benih konflik di masa depan. Di sisi lain, serangan yang disebut “barbar” oleh Israel sejak awal Oktober telah menyebabkan kematian ribuan orang Palestina di Gaza, dengan mayoritas korban adalah wanita dan anak-anak. Israel juga telah dilaporkan menahan dan membunuh ribuan warga Palestina serta melakukan serangan berulang kali ke kompleks Masjid Al-Aqsa.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza, korban tewas telah melebihi 17.400 orang dalam dua bulan terakhir, dengan lebih dari 46.000 lainnya terluka, di mana sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak.

Serangan intens oleh pasukan udara Israel pada hari Sabtu tersebut digambarkan sebagai tidak kenal ampun dan menyebar luas, menurut pernyataan Guterres. Penduduk Gaza dilaporkan mengalami kesulitan untuk mengakses kebutuhan dasar dan bertahan hidup, dengan perbandingan diri mereka sebagai korban dalam suatu permainan yang berbahaya dan mengancam nyawa.

Guterres menekankan bahwa Gaza berada di ujung tanduk, dengan infrastruktur kemanusiaan yang berada di ambang kehancuran, dan kekhawatirannya bahwa dampaknya bisa sangat merugikan keamanan di seluruh kawasan. Laporan dari Gaza menyebutkan serangan udara dan penembakan terjadi di bagian utara dan selatan, termasuk Rafah yang berdekatan dengan perbatasan Mesir.

Gambaran kehancuran di Gaza, termasuk ruang kelas yang hancur dan penuh puing, menunjukkan dampak dari serangan yang dilakukan. Abu Yasser al-Khatib, warga Rafah, menyuarakan kekecewaannya terhadap AS yang ia anggap telah mengabaikan hak asasi manusia dan aturan hukum internasional. Ia menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak akan meninggalkan tanah mereka meskipun dihadapkan pada kekerasan.

Lebih dari 2.200 orang Palestina telah terbunuh sejak penghentian gencatan senjata kemanusiaan yang berlangsung singkat pada awal Desember, menurut laporan dari Kementerian Kesehatan di Gaza, dengan sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak.

Published in Berita Internasional

Comments are closed.