https://journalofserviceclimatology.org/Konflik Perang Lebanon-Israel Dari Masa ke Masa, Siapakah Yang Menang?

journalofserviceclimatology.org – Konflik antara Lebanon dan Israel memiliki sejarah panjang yang berakar pada pendirian Negara Israel pada tahun 1948 dan pengusiran warga Palestina dari tanah mereka, yang memicu pergolakan di kawasan tersebut.

Perang 1948-1949:

Pada tahun 1948, Lebanon bergabung dengan negara-negara Arab lainnya untuk melawan Israel yang baru dibentuk. Konflik ini menyebabkan sekitar 100.000 warga Palestina terpaksa mengungsi ke Lebanon dan menjadi pengungsi. Perang ini mereda dengan penandatanganan gencatan senjata di bawah pengawasan PBB pada 1949. Kedua belah pihak mengklaim kemenangan, namun kedamaian yang sejati tidak tercapai karena hanya terjadi gencatan senjata, bukan perjanjian damai yang komprehensif.

Perang Enam Hari (1967):

Dikenal juga sebagai Perang Juni, konflik ini melihat Israel memperluas wilayahnya termasuk ke sebagian wilayah Lebanon Selatan. Meskipun Lebanon tidak secara langsung terlibat dalam pertempuran, mereka mengalami kerugian wilayah. Israel mengklaim kemenangan dengan pengambilalihan wilayah tersebut.

Perang 1982:

Invasi Israel ke Lebanon pada tahun 1982 bertujuan untuk mengusir kelompok-kelompok perlawanan Palestina. Israel kemudian menarik diri dari sebagian besar wilayah Lebanon, tetapi membentuk zona keamanan di selatan yang diawasi oleh Israel dan milisi Lebanon Selatan. Konflik ini berakhir dengan pembentukan pasukan penjaga perdamaian internasional, termasuk pasukan PBB. Kedua pihak mengklaim kemenangan meskipun hasil yang konkret bersifat ambigu.

Perang 2006:

Konflik ini berpusat pada pertempuran antara Hizbullah dan Israel, dan dianggap sebagai perang Lebanon karena Hizbullah merupakan kekuatan politik dan militer utama di Lebanon. Perang ini dipicu oleh penculikan dua tentara Israel oleh Hizbullah dan serangan terhadap pos militer Israel. Berlangsung selama 34 hari, konflik ini berakhir dengan gencatan senjata yang diawasi PBB. Hizbullah mengumumkan diri sebagai pemenang meskipun kedua pihak mengalami kerugian signifikan baik dalam nyawa maupun infrastruktur.