https://journalofserviceclimatology.org/Megawati Cerita Telah Bahas Kerusakan Alam Saat Bertemu Paus Fransiskus

journalofserviceclimatology.org – Mantan Presiden Indonesia yang kelima, Megawati Soekarnoputri, berbagi pengalaman tentang diskusi yang diadakannya dengan pemimpin agama Katolik dunia, Paus Fransiskus, mengenai isu-isu lingkungan hidup. Perbincangan ini terjadi dalam konteks kegiatannya sebagai juri untuk Zayed Award for Human Fraternity 2024 (ZAHF 2024).

Megawati mengisahkan perjumpaan tersebut saat dia berpartisipasi dalam acara perayaan penganugerahan ZAHF 2024 yang diselenggarakan di Jakarta Selatan pada hari Minggu, 11 Februari. Dia menjelaskan bahwa selama pertemuan dengan Paus Fransiskus, diberikan kesempatan kepada para juri untuk mengemukakan ide atau usulan.

“Saat pertemuan itu, saya mengambil kesempatan untuk berbicara,” kata Megawati, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). “Saya menyampaikan kepada Paus bahwa saat ini kita, manusia, sedang berperang melawan ciptaan Tuhan sendiri dengan menghancurkan alam.”

Paus Fransiskus, menurut Megawati, langsung setuju dengan pandangannya. “Beliau langsung berkata, ‘Anda benar’,” ujarnya, menggambarkan respons Paus.

Dalam kesempatan itu, Megawati, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), menambahkan bahwa berbagai aksi seperti penebangan pohon telah berkontribusi pada kerusakan alam. Dia juga menekankan bahwa saat ini banyak orang yang tidak memperhatikan kondisi sekeliling mereka, termasuk keadaan orang-orang miskin yang sering kali hanya dibicarakan tanpa tindakan nyata.

Megawati berbicara mengenai pentingnya memperhatikan mereka yang kurang mampu, bukan hanya dengan kata-kata tetapi juga dengan tindakan yang konkret.

Keterlibatan Megawati sebagai juri dalam ZAHF 2024 mencerminkan pengakuannya terhadap kontribusi dua organisasi Islam terkemuka, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yang juga dianugerahi Zayed Award for Human Fraternity pada tahun yang sama.

Pengumuman penerima penghargaan dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Muslim Elders Council dan Sekretaris Jenderal ZAHF, Hakim Mohamed Abdelsalam, serta Direktur Jenderal UNESCO sebelumnya, Irina Bokova, pada Jumat, 2 Februari di Uni Emirat Arab.

Upacara penyerahan penghargaan dilaksanakan pada Senin, 5 Februari, di Founder’s Memorial, Abu Dhabi.

Selain NU dan Muhammadiyah, penghargaan tersebut juga diberikan kepada ahli bedah jantung asal Mesir, Sir Magdi Yacoub, serta Suster Nelly Leon Correa dari Chili yang dikenal sebagai pembela kaum marginal.

Megawati hadir sebagai salah satu anggota panel juri yang terdiri dari berbagai tokoh internasional, termasuk Kardinal Leonardo Sandri, Rebeca Grynspan Mayufis dari UNCTAD, serta Irina Bokova, mantan Direktur Jenderal UNESCO.