Skip to content →

WHO Khawatir Kondisi Tidak Manusiawi di Gaza Picu Wabah Penyakit

journalofserviceclimatology.org – Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang menjabat sebagai Direktur Jenderal WHO, telah mengutarakan keprihatinan serius mengenai situasi di Rumah Sakit Eropa di Gaza Selatan. Melalui platform media sosial X, beliau menyampaikan bahwa kondisi fasilitas kesehatan ini tidak layak dan berpotensi memperparah penyebaran penyakit.

Ghebreyesus menyatakan bahwa Rumah Sakit Eropa, yang terletak di Khan Younis, bagian selatan Gaza, saat ini mengalami kelebihan kapasitas pasien akibat dari konflik yang berlangsung. Dengan kapasitas resmi hanya untuk 670 tempat tidur, rumah sakit ini kini harus menangani 800 pasien, menunjukkan betapa tingginya beban yang mereka hadapi.

Menurut Ghebreyesus, hal ini diperparah oleh kenyataan bahwa berbagai layanan penting seperti unit gawat darurat, perawatan intensif, operasi bedah, perawatan luka, serta layanan untuk ibu dan anak, laboratorium, dan radiologi hanya berjalan dengan sangat terbatas.

Situasi rumah sakit ini semakin sulit karena akses menuju ke sana terhalang oleh serangan militer Israel yang berlangsung di wilayah tersebut, menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi oleh rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, melalui media sosial X, telah mengungkapkan pandangannya pada hari Jumat mengenai kondisi yang dia anggap sangat buruk di Rumah Sakit Eropa di Gaza Selatan. Dalam cuitannya, Ghebreyesus menjelaskan bahwa tim WHO, bersama dengan mitra, telah melihat langsung keadaan yang sangat padat di fasilitas kesehatan tersebut, yang ia gambarkan sebagai situasi yang tidak layak bagi pasien, tenaga kesehatan, serta mereka yang membutuhkan tempat perlindungan yang aman.

Ghebreyesus menyoroti bahwa pembatasan akses ke air bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit di area tersebut.

Selama kunjungan itu, delegasi WHO memberikan suplai medis yang cukup untuk menangani 9.000 pasien di Rumah Sakit Eropa, menunjukkan komitmen organisasi terhadap mitigasi krisis kesehatan ini.

Ghebreyesus juga menekankan pentingnya gencatan senjata segera, menyuarakan kebutuhan mendesak akan perdamaian untuk memungkinkan bantuan kesehatan yang efektif.

Data yang dirilis oleh otoritas kesehatan Palestina menunjukkan jumlah korban yang sangat tinggi sebagai akibat dari konflik militer di Jalur Gaza. Dilaporkan bahwa sekitar 27.000 warga Palestina, dengan mayoritas perempuan dan anak-anak, telah kehilangan nyawa, dan 66.000 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan militer Israel. Serangan ini merupakan respons terhadap serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 warga Israel menurut klaim negara tersebut.

Published in Berita Internasional

Comments are closed.