https://journalofserviceclimatology.org/Yang Didiskusikan Antara Fatah dan Hamas di Moskow, Apa Itu?

journalofserviceclimatology.org – Mohammad Nazzal, seorang tokoh penting dari Biro Politik Hamas, mengumumkan bahwa akan diadakan pertemuan resmi dengan Fatah dan berbagai faksi Palestina lain di Moskow, Rusia. Ini terjadi di tengah kondisi dimana tidak terdapat dialog resmi dengan Otoritas Palestina mengenai strategi pasca-konflik di Gaza. Menurut laporan yang dirilis oleh Middle East Monitor, Nazzal mengklarifikasi bahwa klaim yang menyebut Rafah di selatan Gaza sebagai benteng terakhir Hamas adalah tidak benar, dengan menegaskan bahwa perlawanan tersebar di seluruh wilayah Jalur Gaza.

Nazzal menyatakan bahwa Hamas juga terlibat dalam pertempuran negosiasi politik yang intensif, yang memiliki tingkat kepentingan setara dengan pertempuran militer. Dalam konferensi pers, ia menekankan bahwa tujuan utama dari perundingan yang akan datang adalah untuk mendorong hak-hak dan kepentingan rakyat Palestina, yang mencakup penghentian agresi oleh Israel dan penyediaan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh penduduk Jalur Gaza, terutama di wilayah utara.

Nazzal menambahkan bahwa sampai sekarang belum ada komitmen konkret dari Israel untuk menghentikan agresi terhadap Gaza. Israel, menurutnya, hanya menawarkan gencatan senjata sementara sebagai bagian dari perjanjian pertukaran tawanan dan setelah itu berencana untuk melanjutkan operasi militernya di Rafah. Dia juga mengkritik aksi militer Israel sejak 7 Oktober, yang telah melakukan serangan besar-besaran terhadap sasaran sipil di Gaza, termasuk fasilitas kesehatan, institusi pendidikan, dan perumahan, serta pemblokiran pasokan air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar. Akibat dari serangan-serangan ini, Nazzal mengklaim bahwa ribuan warga Palestina telah kehilangan nyawa, dengan sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak, dan puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka. Dia juga menyampaikan bahwa mayoritas dari 2,3 juta penduduk di Gaza telah terpaksa mengungsi akibat konflik tersebut.