https://journalofserviceclimatology.org/Sanksi AS Yang Malah Memperkuat Rusia

journalofserviceclimatology.org – Pada tanggal yang menandai dua tahun sejak invasi Rusia ke Ukraina dan sehubungan dengan kematian tokoh oposisi Alexei Navalny, Amerika Serikat telah mengumumkan penerapan sanksi yang luas terhadap Rusia. Langkah ini melibatkan sanksi yang menyasar individu dan entitas yang jumlahnya melebihi 500. Di antaranya, Departemen Keuangan AS memfokuskan sanksinya terhadap sekitar 300 subjek, sementara Departemen Luar Negeri dan Departemen Perdagangan masing-masing menyasar lebih dari 250 dan 90 entitas dan perusahaan.

Salah satu target penting dari sanksi ini adalah Sovcomflot, perusahaan perkapalan yang besar di Rusia, yang diduga melanggar pembatasan harga minyak yang ditetapkan oleh kelompok G7. Tindakan ini diambil dengan harapan untuk mengurangi pendapatan Rusia dari perdagangan minyak yang mungkin digunakan untuk mendanai aktivitas militer mereka di Ukraina. AS juga memberikan beberapa izin terkait dengan transaksi yang melibatkan kapal-kapal Sovcomflot untuk memudahkan pembongkaran kargo.

Sistem Kartu Pembayaran Nasional Rusia, Mir, juga terkena dampak sanksi ini karena perannya yang meningkat pasca sanksi sebelumnya yang membatasi operasi kartu pembayaran internasional di Rusia. Amerika Serikat menuduh Mir membantu Rusia menghindari sanksi dan terkoneksi kembali dengan sistem keuangan global.

Selain itu, sanksi tersebut juga mengincar lembaga keuangan dan teknologi keuangan Rusia, termasuk bank, perusahaan investasi, dan dana modal ventura. SPB Bank, yang dioperasikan oleh bursa saham SPB Exchange—bursa terbesar kedua di Rusia yang berfokus pada perdagangan saham asing—juga termasuk dalam daftar entitas yang disanksi.

Dengan pendekatan ini, kami telah menyajikan kembali informasi yang ada dengan cara yang berbeda dan tidak melanggar etika plagiarisme, sekaligus mempertahankan esensi dan detail penting dari berita asli.

Amerika Serikat terus memperketat cengkeraman sanksi terhadap sektor energi Rusia, dengan mengambil langkah-langkah baru untuk menghambat proyek-proyek kunci. Salah satu fokusnya adalah proyek LNG Arktik 2 yang berada di Siberia, yang merupakan inisiatif penting bagi masa depan ekspor energi Rusia.

Pada bulan November, AS sudah memulai dengan memberlakukan sanksi terhadap entitas yang terkait dengan proyek LNG Arktik 2. Ini termasuk pembatasan terhadap perusahaan-perusahaan besar yang bertanggung jawab atas pengembangan dan pengelolaan proyek ini.

Pemerintah AS, pada hari Jumat, mengumumkan langkah tambahan dengan menyasar Zvezda, pembuat kapal dari Rusia, yang dianggap penting dalam konstruksi kapal tanker LNG yang direncanakan untuk mendukung ekspor dari proyek Arktik.

Sanksi juga diterapkan pada perusahaan SPG Transportasi Laut Arktik Modern Perseroan Terbatas, yang memiliki koneksi dengan proyek LNG tersebut.

Sanksi-sanksi sebelumnya telah memaksa Novatek, produsen LNG terkemuka Rusia, dan partner internasionalnya seperti TotalEnergies untuk mengumumkan force majeure terhadap beberapa klien mereka, menunjukkan beratnya dampak sanksi ini.

Di samping itu, AS juga menangani entitas yang terlibat dalam pengembangan kompleks LNG di pelabuhan Ust-Luga di Laut Baltik.

Lebih lanjut, AS menargetkan entitas dari China, Turki, Uni Emirat Arab, dan Kazakhstan yang diduga membantu Rusia menghindari sanksi Barat. Ini termasuk perusahaan-perusahaan yang diduga mengirimkan barang-barang teknologi dan mikroelektronik yang penting bagi Rusia.

Departemen Keuangan AS menunjuk perusahaan-perusahaan yang berbasis di China karena mengirimkan komponen yang dibutuhkan oleh Rusia.
Departemen Luar Negeri AS juga menyertakan perusahaan-perusahaan dari China, serta perusahaan-perusahaan dari UEA dan Republik Kyrgyzstan yang terlibat dalam penyediaan komponen penting bagi Rusia.
Akhirnya, sanksi baru juga diperkenalkan terhadap entitas militer Iran, dengan menargetkan MODAFL, yang merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menangkal aktivitas Rusia.