AS Hentikan Pendanaan ke UNRWA, Beralih Bantuan ke Lembaga Lain

journalofserviceclimatology.org – Pemerintahan Biden berencana untuk mengalihkan dana yang awalnya ditujukan untuk UNRWA, Badan Pengungsi Palestina PBB, ke organisasi bantuan lain yang beroperasi di Gaza. Perubahan ini akan terjadi jika Kongres mengesahkan undang-undang yang melarang pendanaan untuk UNRWA, seperti yang diungkapkan oleh Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Vedant Patel, pada hari Senin.

Pada bulan lalu, Washington mengumumkan penangguhan sementara pendanaan baru untuk UNRWA sambil menyelidiki tuduhan bahwa beberapa anggota staf terlibat dalam insiden agresi tanggal 7 Oktober.

Sebuah rancangan undang-undang yang diperkenalkan oleh beberapa senator pada hari Minggu termasuk ketentuan yang akan mencegah agensi tersebut menerima dana dari rancangan undang-undang tersebut.

Dalam sebuah konferensi pers, Patel menyatakan bahwa rancangan undang-undang yang dinegosiasikan oleh pemerintahan Biden bersama dengan sekelompok senator bipartisan tersebut menyiapkan $1,4 miliar untuk bantuan kemanusiaan di Gaza. Namun, dana tersebut bisa dialihkan ke organisasi lain seperti Program Pangan Dunia (WFP) PBB, UNICEF, atau organisasi bantuan lainnya.

“Kami percaya bahwa dana ini akan memiliki dampak yang signifikan dalam menyelamatkan nyawa dan memberikan bantuan langsung kepada warga sipil Palestina. Kami berencana untuk mengalokasikan dana yang sebelumnya untuk UNRWA ke mitra lain yang dapat memberikan bantuan di Gaza,” demikian pernyataan yang dikutip dari Reuters.

“Kami percaya bahwa dana ini akan memiliki dampak yang signifikan dalam menyelamatkan nyawa dan memberikan bantuan langsung kepada warga sipil Palestina. Kami berencana untuk mengalokasikan dana yang sebelumnya untuk UNRWA ke mitra lain yang dapat memberikan bantuan di Gaza,” demikian pernyataan yang dikutip dari Reuters.

Departemen Luar Negeri AS menyampaikan bahwa mereka telah menyumbangkan 400 juta setiap tahun.

Baru-baru ini, UNRWA memberikan peringatan bahwa mereka mungkin harus menghentikan kegiatan operasional mereka pada akhir Februari jika pendanaan tidak dilanjutkan. Hal ini terjadi setelah AS dan beberapa donor utama lainnya menangguhkan kontribusi keuangannya.

Israel menuduh sejumlah staf UNRWA di Gaza terlibat dalam serangan militer Hamas, yang menurut mereka telah menyebabkan kematian 1.200 orang dan memicu balasan dari Israel yang mengakibatkan lebih dari 27.000 korban jiwa Palestina, sesuai dengan laporan otoritas di Gaza.

Seorang pejabat Israel memberitahu Reuters bahwa Kementerian Luar Negeri Israel sedang menyiapkan proposal untuk menggantikan UNRWA, dengan WFP dan USAID yang berbasis di Washington sebagai kandidat pengganti.

Meskipun Washington mengakui “pekerjaan penting” yang dilakukan UNRWA dalam membantu warga Palestina, mereka juga ingin melihat “hasil konkret” dari investigasi yang dilakukan UNRWA mengenai tuduhan yang diajukan oleh Israel, menurut Patel. Namun, Patel tidak memberikan jadwal pasti kapan AS akan memutuskan untuk melanjutkan pendanaan.

“Kami yakin bahwa kami masih bisa melanjutkan pekerjaan penting melalui LSM dan mitra lainnya. Sementara itu, kami akan tetap berdialog dengan negara-negara donor mengenai dukungan untuk UNRWA,” ujar Patel.

Seorang Dokter Palestina di Gaza Cerita Mendapatkan Siksaan Tentara Israel

journalofserviceclimatology.org – Seorang dokter asal Palestina di Gaza, Said Abdulrahman Maarouf, berbagi pengalaman traumatis saat ia mengalami penculikan dan kekerasan oleh pasukan Israel selama 45 hari. Selama periode penahanan yang hampir mencapai dua bulan, Maarouf menderita penyiksaan, kekurangan tidur, penutupan mata, dan terus-terusan diborgol oleh tentara.

Maarouf, yang saat itu tengah bertugas di rumah sakit Al Ahli Al-Arab di Gaza, mengisahkan bagaimana fasilitas kesehatan tempat ia bekerja terkepung oleh militer Israel pada bulan Desember yang lalu.

Ia menjelaskan bahwa ia ditahan dengan tangan terborgol, kaki terbelenggu, dan mata yang ditutup selama hampir tujuh minggu dalam tahanan. Maarouf juga menggambarkan bagaimana ia dipaksa untuk tidur di lantai yang hanya ditutupi kerikil tanpa adanya matras atau bantal, sementara musik keras diputar tanpa henti.

Maarouf, seorang dokter yang berat badannya semula 87 kilogram, menggambarkan pengalaman pahit selama ditahan oleh Israel. “Dalam tempo 45 hari, saya kehilangan lebih dari 25 kilogram. Konsentrasi dan keseimbangan saya terganggu,” ujarnya.

Penderitaan di penjara Israel tidak dapat dijelaskan sepenuhnya, tuturnya, dikutip oleh Reuters. “Anda hanya benar-benar mengerti jika Anda sendiri yang mengalaminya,” lanjut Maarouf.

Maarouf tidak mengetahui lokasi penahanannya karena selalu dengan mata tertutup. Dia tidak yakin apakah ia ditahan di dalam atau di luar wilayah Gaza, dan hanya mengetahui bahwa ia diturunkan di persimpangan Kerem Shalom ketika dibebaskan.

Dia percaya bahwa dirinya adalah salah satu dari lebih dari seratus tahanan yang diambil dari lokasi yang sama. “Kami semua mendambakan kematian sebagai pelepas dari penderitaan hebat yang kami hadapi,” ungkapnya.

Maarouf juga mengungkapkan asumsi awalnya saat dibawa oleh pasukan Israel. “Saya kira kami hanya akan ditahan beberapa jam dan kemudian dibebaskan. Saya berpikir, sebagai dokter yang tidak melakukan kejahatan, kami akan diperlakukan dengan lebih baik,” paparnya.

Maarouf dan tahanan lainnya menderita penyiksaan yang sangat kejam selama masa tahanan mereka di bawah pihak Israel.

Selama hampir empat bulan serangan Israel terhadap Palestina, jumlah korban sipil di Gaza terus meningkat. Telah dilaporkan lebih dari 27.000 korban jiwa akibat tindakan Israel, dengan mayoritas korban merupakan wanita dan anak-anak

Raja Charles III Mengidap Kanker Diumumkan Istana Buckingham

journalofserviceclimatology.org – Istana Buckingham baru-baru ini mengungkapkan bahwa Raja Charles III sedang menghadapi diagnosis kanker. Informasi ini diumumkan menyusul kunjungan Raja ke sebuah rumah sakit di London untuk prosedur yang berkaitan dengan pembesaran prostat pada bulan sebelumnya.

Pemeriksaan medis telah mengidentifikasi suatu jenis kanker, sesuai dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh istana pada hari Senin, tanggal 5 Februari waktu setempat.

“Raja telah memulai sebuah rencana pengobatan terjadwal hari ini, dan selama periode ini, ia telah dianjurkan oleh tim dokternya untuk mengurangi kegiatan publik,” jelas pernyataan dari istana.

Meskipun demikian, istana menyatakan bahwa Raja Charles akan tetap melaksanakan tanggung jawab kenegaraan dan melanjutkan pengurusan dokumen-dokumen resmi selama menjalani pengobatan.

Berdasarkan laporan dari The Guardian, Raja Charles telah menyampaikan penghargaannya kepada tim medis yang telah memberikan respons cepat terhadap kondisi kesehatannya. Beliau tetap optimis dan berharap bisa segera melanjutkan kewajiban-kewajiban kerajaannya.

“Sang Raja telah memilih untuk mengungkapkan kondisi kesehatannya untuk menghindari spekulasi tidak perlu dan berharap ini bisa meningkatkan kesadaran publik tentang pengaruh kanker terhadap orang-orang di seluruh dunia.”

Sebelum diagnosis kanker ini, Raja Charles III sudah menjalani sebuah operasi terkait pembesaran prostat. Pada periode yang sama, menantu sang Raja, Kate Middleton, juga sedang dalam proses pemulihan pasca-operasi perut.

Sekjen PBB Tunjuk Panel Independen Untuk Menilai UNRWA

journalofserviceclimatology.org – Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal PBB, pada Senin (5/2), mengumumkan pembentukan sebuah komite independen yang bertugas mengevaluasi kinerja UNRWA, Badan Pengungsi Palestina PBB. UNRWA menghadapi kritikan setelah Israel menuduh bahwa 12 anggota stafnya terlibat dalam serangan yang dilakukan oleh Hamas terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober.

Sebagai respons, lebih dari selusin negara, termasuk Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan Swedia telah menghentikan sementara pendanaan mereka kepada badan ini.

“Komite yang baru dibentuk ini akan dikepalai oleh Catherine Colonna, mantan Menteri Luar Negeri Prancis, dan akan bekerja bersama dengan tiga lembaga penelitian Eropa,” menurut pernyataan dari PBB yang dirujuk oleh AFP.

Penyelidikan ini bertujuan untuk “mengkaji sejauh mana UNRWA menggunakan semua sumber daya yang ada untuk memastikan netralitas dan mengatasi tuduhan pelanggaran serius yang mungkin terjadi.”

Komite yang dibentuk oleh Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, diharapkan menyampaikan temuannya dalam bentuk laporan sementara kepada Guterres di akhir bulan Maret, dan laporan lengkap pada akhir April. Laporan ini mungkin juga akan menyertakan saran mengenai cara untuk meningkatkan dan memperkuat tata kelola UNRWA.

Proses penilaian ini berjalan paralel dan terpisah dari investigasi internal yang telah dimulai oleh PBB sebelumnya, menyusul tuduhan yang muncul terhadap 12 anggota staf UNRWA.

Serangan yang dilancarkan oleh Hamas pada tanggal 7 Oktober telah menyebabkan kerugian nyawa yang signifikan, dengan jumlah korban mencapai sekitar 1.160 orang, dimana mayoritas adalah warga sipil, ini berdasarkan perhitungan AFP yang menggunakan data resmi.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, baru-baru ini menyatakan bahwa UNRWA telah “sepenuhnya disusupi” oleh kelompok militan, dengan catatan bahwa Hamas telah mengendalikan Gaza sejak tahun 2007.

Tindakan militer yang dilakukan oleh Israel sebagai tanggapan telah menyebabkan kematian yang amat besar, dengan setidaknya 27.478 orang di Gaza, yang umumnya adalah wanita dan anak-anak, berdasarkan data yang diberikan oleh kementerian kesehatan di wilayah yang dikelola oleh Hamas.

Dalam upaya evaluasi independen terhadap UNRWA, tiga lembaga Eropa yang berpartisipasi adalah Raoul Wallenberg Institute dari Swedia, Chr. Michelsen Institute dari Norwegia, dan Danish Institute for Human Rights.

Ahmed Awad Bin Mubarak Ditunjuk Yaman Jadi Perdana Menteri Baru

journalofserviceclimatology.org – Pada hari Senin, 5 Februari, waktu lokal, Dewan Kepemimpinan Presidensial Yaman mengumumkan pengangkatan Ahmed Awad bin Mubarak sebagai Perdana Menteri yang baru. Dilaporkan oleh kantor berita SABA yang resmi, dewan tersebut telah memutuskan bahwa anggota kabinet akan melanjutkan tugas mereka tanpa perubahan sampai proses transisi selesai.

Pengangkatan Perdana Menteri baru ini menjadi efektif sejak Senin yang sama, sebagaimana diumumkan oleh SABA.

Maeen Abdulmalik Saeed, yang berencana untuk mengundurkan diri dari posisi Perdana Menteri Yaman, akan beralih fungsi menjadi penasihat kepada Ketua Dewan Pemimpinan Presiden, menurut pernyataan resmi dari kantor Kabinet Yaman yang dipublikasikan melalui platform X.

Ahmed Awad bin Mubarak akan menggantikan Saeed sebagai Perdana Menteri di tengah periode meningkatnya ketegangan di Yaman, yang dipicu oleh serangan-serangan terbaru di Laut Merah oleh kelompok Houthi. Serangan tersebut telah memprovokasi tindakan militer balasan dari Amerika Serikat dan Inggris.

Dikenal sebagai mantan duta besar Yaman untuk Amerika Serikat, bin Mubarak memiliki sejarah konflik dengan kelompok Houthi, yang telah menculiknya pada tahun 2015 dan menahannya selama beberapa hari. Sebelumnya, ia telah menjabat sebagai kepala staf presiden Yaman dan juga pernah ditempatkan sebagai perwakilan negara di PBB pada tahun 2018.

Menurut Mohammed Al-Basha, seorang ahli Yaman yang bekerja dengan grup penelitian Navanti yang berbasis di Amerika Serikat, bin Mubarak dianggap sebagai salah satu pemimpin utama koalisi yang dipimpin oleh Saudi yang melakukan intervensi militer melawan Houthi pada tahun 2015. Intervensi ini bertujuan untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional, setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa pada tahun sebelumnya.

Dilaporkan oleh AFP, Al-Basha menyatakan bahwa kelompok Houthi kemungkinan besar tidak akan menerima penunjukan bin Mubarak, mengingat latar belakang konflik sejarah antara mereka. Penunjukan ini diperkirakan akan menambah ketegangan antara Houthi dan pemerintah yang diakui secara internasional.

Kelompok Houthi, yang didukung oleh Iran dan merupakan bagian dari kelompok yang menentang kebijakan Barat dan Israel, telah mengganggu perairan Laut Merah selama beberapa bulan, yang memicu respons militer dari Amerika Serikat dan Inggris.

Pentagon melaporkan bahwa Houthi telah melakukan lebih dari 30 serangan terhadap kapal dagang dan angkatan laut sejak 19 November. Pemberontak menyatakan bahwa serangan mereka adalah bentuk dukungan terhadap Palestina dan protes terhadap konflik antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza yang berlangsung sejak Oktober.

Merpati Mata-Mata China Akhirnya Dilepas Polisi India Setelah 8 Bulan di Tahan

journalofserviceclimatology.org – Setelah sebuah periode penahanan selama delapan bulan, polisi India telah melepaskan seekor merpati yang sebelumnya dicurigai sebagai alat pengintai milik China. Langkah ini diambil menyusul inisiatif dan intervensi dari kelompok perlindungan hak-hak hewan, PETA.

“PETA India mengambil langkah setelah menerima informasi bahwa merpati tersebut ditahan di Rumah Sakit Hewan ai Sakarbai Dinshaw Petit (BSDPHA) di Parel, di mana ia dianggap sebagai barang bukti dalam sebuah kasus selama delapan bulan. Organisasi tersebut kemudian bergerak cepat untuk memastikan pembebasan merpati itu,” ungkap pernyataan dari PETA.

Burung tersebut awalnya ditangkap pada bulan Mei tahun sebelumnya ketika ditemukan di Mumbai, dengan sebuah pesan yang tertulis dalam apa yang diduga sebagai bahasa Mandarin yang terlampir pada sayapnya.

“Penemuan pesan dalam bahasa asing ini membangkitkan dugaan aktivitas spionase dan memotivasi otoritas kepolisian untuk menahan burung tersebut,” menurut keterangan yang disampaikan oleh PETA.

Merespons situasi ini, PETA India mengambil inisiatif untuk berkomunikasi dengan kepolisian di Mumbai, mendesak agar merpati yang terjebak dalam kecurigaan mata-mata itu segera dilepaskan.

Merpati tersebut akhirnya mendapat kebebasannya kembali setelah diizinkan terbang oleh Kolonel (Purn) Dr. B. B. Kulkarni, yang merupakan Kepala Inspektur Medis di BSDPHA, seperti yang dilaporkan oleh PETA.

Sebelumnya, dilaporkan oleh berbagai outlet berita India bahwa burung tersebut sempat dititipkan pada organisasi Masyarakat Bombay untuk Pencegahan Kekejaman terhadap Hewan. Kebebasannya dikembalikan pada hari Selasa, tanggal 30 Januari.

Kasus-kasus serupa yang melibatkan hewan yang dicurigai sebagai mata-mata tidaklah baru. Contohnya, pada tahun 2016, ada kejadian serupa di mana merpati ditahan karena membawa pesan yang mengandung ancaman terhadap Perdana Menteri India, Narendra Modi.

Pada tahun 2019, sebuah peristiwa menarik perhatian internasional saat seekor Paus beluga putih—yang kemudian dikenal dengan nama Hvaldimir—terlihat mengenakan harness yang tampaknya dirancang untuk membawa kamera. Insiden ini memunculkan spekulasi bahwa mamalia tersebut mungkin telah dilatih oleh angkatan militer Rusia.

Banyaknya Korban Tewas Agresi Israel di Gaza Mencapai 27 Ribuan Jiwa

journalofserviceclimatology.org – Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan di Gaza, telah terjadi peningkatan tragis dalam jumlah korban jiwa akibat dari serangan militer Israel, dengan total korban meninggal telah mencapai 27.365 orang per hari Minggu, tanggal 4 Februari. Selama periode 24 jam terakhir, tercatat 127 orang lagi telah kehilangan nyawa mereka. Selain itu, jumlah orang yang mengalami luka-luka kini telah melebihi 66.630 individu.

Serangan yang dilakukan oleh Israel sejak tanggal 7 Oktober terus berlangsung dengan intensitas yang tinggi, khususnya di wilayah selatan Gaza.

Pasukan militer Israel telah mengumumkan bahwa mereka telah mengalihkan fokus operasi militernya ke selatan Gaza setelah mengklaim telah menghilangkan ancaman dari kelompok Hamas di area utara. Khan Younis, kota yang terletak di selatan Gaza, menjadi sasaran utama karena diduga menjadi lokasi persembunyian pemimpin-pemimpin Hamas.

Pada saat yang sama, Israel menerima instruksi dari Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) yang menyerukan negara tersebut untuk mengambil langkah-langkah pencegahan guna menghindari terjadinya genosida. Keputusan ICJ menuntut Israel untuk memastikan bahwa operasinya tidak menyebabkan genosida dan untuk tidak menghancurkan bukti yang terkait dengan hal tersebut.

Israel juga diinstruksikan untuk memberikan sanksi terhadap pihak-pihak yang terbukti memprovokasi genosida dan memastikan bahwa koridor bantuan kemanusiaan terbuka bagi penduduk Gaza yang membutuhkan.

Situasi kemanusiaan di Gaza saat ini sangat kritis, dengan warga setempat mengalami kesulitan serius di tengah musim dingin dan kondisi cuaca buruk. Kamp-kamp pengungsian di sana berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, dengan genangan air di mana-mana, kurangnya akses ke air bersih dan pasokan makanan yang memadai.

Lebih lanjut, layanan kesehatan di Gaza juga sangat terbatas, membuat perawatan bagi mereka yang terluka dalam konflik menjadi sangat sulit, terutama karena infrastruktur rumah sakit yang hampir runtuh di bawah tekanan keadaan saat ini.

Kementrian Luar Negeri Buka Suara Soal Isu Menlu Retno Mundur dari Kabinet Jokowi

journalofserviceclimatology.org – Kementerian Luar Negeri Indonesia telah merespons spekulasi mengenai kemungkinan pengunduran diri Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dari kabinet Presiden Joko Widodo. Lalu Muhamad Iqbal, yang berperan sebagai juru bicara Kementerian, membantah rumor tersebut, menegaskan bahwa Retno tetap fokus pada tanggung jawabnya dalam mengurus kepentingan Indonesia di kancah internasional, termasuk isu-isu sensitif seperti situasi di Palestina.

“Menlu Retno masih terus berkomitmen dan tengah menangani berbagai agenda internasional yang membutuhkan perhatian mendalam, seperti isu Palestina. Beliau memiliki jadwal yang sangat padat,” ujar Iqbal kepada media.

Pada tanggal 19 Januari, Retno Marsudi sendiri telah menegaskan komitmennya pada pekerjaannya dalam urusan hubungan internasional, termasuk persiapan untuk debat di Dewan Keamanan PBB mengenai situasi di Gaza.

“Saat ini saya tengah mempersiapkan untuk debat di DK PBB terkait Gaza, dan saya akan berangkat ke New York besok malam,” tutur Retno

Kabar tentang kemungkinan beberapa menteri yang ingin mundur dari posisi mereka muncul setelah komentar yang dibuat oleh Faisal Basri, seorang ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), dalam sebuah acara di Jakarta Selatan pada tanggal 13 Januari. Faisal Basri menyebutkan bahwa di antara menteri yang mungkin mengundurkan diri adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, serta beberapa menteri lain yang dikabarkan merasa tidak nyaman dengan arah kebijakan pemerintahan saat ini.

Spekulasi ini diperkuat oleh laporan pertemuan antara Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 Februari, yang timbulkan pertanyaan tentang masa depan kabinet.

Istana Kepresidenan Indonesia telah memberikan klarifikasi bahwa pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani tidak berkaitan dengan spekulasi mengenai pengunduran diri Sri Mulyani dari Kabinet Indonesia Maju.

Ari Dwipayana, selaku Koordinator Staf Khusus Presiden, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari agenda rutin, di mana Sri Mulyani dijadwalkan untuk bertemu dengan Jokowi pada hari tersebut pukul 14.30. Tujuan dari pertemuan itu adalah untuk memberikan laporan terkait dengan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk tahun 2024.

Terkait hubungan antarpersonal di antara anggota kabinet, diketahui bahwa Sri Mulyani dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memiliki persahabatan yang erat dan telah berteman selama kurang lebih 44 tahun, sejak zaman mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Kedekatan mereka bukan hanya dalam lingkup profesional, tetapi juga telah terdokumentasi dalam momen-momen pribadi, seperti yang terlihat dalam sebuah kesempatan ketika mereka berpelukan setelah Indonesia menyelesaikan presidensi G20 pada bulan November 2022.

30 Fasilitas Houthi di Yaman Diserang AS-Inggris Lagi

journalofserviceclimatology.org – Pasukan dari Amerika Serikat dan Inggris telah melaksanakan aksi militer terhadap sejumlah target yang terkait dengan milisi Houthi di Yaman. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis bersama-sama, mereka menyatakan telah melakukan serangan dari udara serta darat yang diarahkan ke berbagai fasilitas milik Houthi yang tersebar di 13 lokasi berbeda.

“Operasi militer yang dilakukan pada hari ini ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur yang digunakan untuk penyimpanan senjata, sistem peluncuran rudal, sistem pertahanan udara, dan juga peralatan radar yang dioperasikan oleh Houthi,” ungkap pernyataan tersebut.

Serangan terhadap fasilitas milisi Houthi di Yaman dilakukan dengan dukungan dari berbagai sekutu internasional termasuk Australia, Bahrain, Kanada, Denmark, Belanda, dan Selandia Baru, yang semuanya menyuarakan dukungan mereka melalui pernyataan bersama dengan AS dan Inggris.

Menurut laporan yang diberikan oleh Houthi, pesawat-pesawat dari AS dan Inggris telah menargetkan beberapa provinsi di Yaman, termasuk ibu kota, Sanaa.

Seorang pejabat Amerika mengungkapkan bahwa serangan ini melibatkan peluncuran rudal Tomahawk dari dua kapal perusak Amerika Serikat sebagai bagian dari operasi tersebut.

Ditambahkan oleh beberapa sumber bahwa kapal-kapal USS Gravely dan USS Carney telah menembakkan rudal jelajah. Jet-jet tempur F/A-18 yang beroperasi dari kapal induk USS Dwight D. Eisenhower turut serta dalam pelaksanaan serangan ini.

Sejak Israel memulai serangan ke Gaza pada tanggal 7 Oktober, sejumlah kelompok milisi di Timur Tengah yang merupakan bagian dari kelompok perlawanan Islam telah meningkatkan serangan terhadap kepentingan Israel, sebagai bentuk dukungan terhadap Hamas. Salah satu kelompok yang aktif dalam serangan ini adalah Houthi.

Akhir-akhir ini, Houthi secara khusus telah meningkatkan agresi mereka, sering kali menargetkan kapal-kapal yang mereka anggap terkait dengan Israel, termasuk kapal-kapal milik Amerika Serikat dan kapal-kapal komersial Inggris.

Sementara itu, Amerika Serikat telah memberikan indikasi bahwa mereka mungkin akan merespons dengan serangan balasan terhadap Iran dan kelompok-kelompok yang didukung oleh negara tersebut di Timur Tengah.

Perang Dunia ke 3 Terbuka Lebar, Begini Kemungkinan-Kemungkinannya

journalofserviceclimatology.org – Menurut penilaian dari para ahli, termasuk analis militer Justin Crump, keadaan konflik global saat ini memunculkan kemungkinan yang semakin nyata akan berkembangnya skenario menuju konflik berskala besar, yang oleh beberapa pihak dikhawatirkan bisa berujung pada Perang Dunia ke-3. Crump, yang merupakan CEO dari sebuah firma analisis risiko global, Sibylline, menyoroti bahwa tanpa perubahan yang signifikan dan mendalam pada tingkat dunia, ancaman dan ketegangan internasional akan terus bertambah.

Pandangan ini didukung oleh konflik yang terjadi di beberapa wilayah di dunia, termasuk situasi di Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, serta konflik di berbagai tempat di benua Afrika dan Asia.

Justin Crump, seorang ahli strategi militer, telah menyuarakan kekhawatiran mendalam tentang potensi gejolak global yang semakin meningkat. Dalam wawancara dengan Mail Online yang juga dilaporkan oleh Express pada hari Selasa, 23 Januari 2024, ia berkomentar, “Saya percaya ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Menurut saya, risikonya semakin meningkat.”

Dia menambahkan, “Jika ini tidak terjadi tahun depan, kemungkinan akan terjadi pada akhir dekade ini. Kita akan menghadapi situasi yang serupa. Dan kecuali ada perubahan yang sangat drastis yang terjadi di planet ini, risiko akan terus meningkat.”

Situasi saat ini menunjukkan peningkatan dalam jumlah konflik berdarah di berbagai belahan dunia. Penelitian dari Peace Research Institute Oslo mencatat adanya peningkatan dalam jumlah kematian yang disebabkan oleh pertempuran dan konflik antarnegara pada tahun 2022.

Keadaan ini diperburuk dengan berlanjutnya konflik antara Rusia dan Ukraina serta meningkatnya tensi terkait potensi agresi China terhadap Taiwan, yang bisa memicu klaim kedaulatan atas pulau tersebut.

Tingkat retorika yang semakin menegangkan antara dua belah pihak telah menambah kekhawatiran mengenai situasi di Timur Tengah. Ada kecemasan yang meningkat tentang kemungkinan konflik antara Israel dan Hamas di Gaza, Palestina yang dapat berkembang dan menyebar ke wilayah-wilayah lain di dunia Arab.

Konflik antara Israel dan Hamas tidak hanya terisolasi tapi juga telah mempengaruhi kelompok-kelompok milisi seperti Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon, yang bersekutu dengan Hamas. Sebagai contoh, Houthi telah mulai mengambil tindakan agresif seperti pembajakan kapal di Laut Merah sebagai bentuk tekanan terhadap komunitas internasional dan Israel untuk menghentikan serangan di Gaza.

Sementara itu, Inggris dan Amerika Serikat telah menanggapi dengan melancarkan serangan rudal terhadap Yaman, namun langkah ini tampaknya belum cukup untuk mengekang aktivitas Houthi yang terus menyebabkan ancaman terhadap keamanan pelayaran internasional.

Di utara perbatasan Israel, Hizbullah juga telah melakukan serangan terhadap negara tersebut, dengan tujuan mendukung Hamas. Tindakan ini menambah kekhawatiran akan kemungkinan eskalasi konflik menjadi perang yang lebih luas antara kelompok-kelompok tersebut dan Israel.

Bombardir 85 Titik, AS Mulai Serang Irak dan Suriah Besar-Besaran

journalofserviceclimatology.org – Pada tanggal 2 Februari, serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat telah menghantam 85 titik di Irak dan Suriah, yang merupakan daerah di mana kelompok militan yang didukung oleh Iran beroperasi. Ini menandakan langkah AS yang mungkin merupakan bagian dari serangkaian serangan yang lebih besar dan terorganisir terhadap milisi yang didukung Iran, sebagai balasan atas serangan terhadap pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah.

Dalam insiden sebelumnya, serangan yang dilakukan oleh militan pro-Iran telah menyebabkan kematian tiga anggota militer AS dan melukai 40 lainnya di Yordania.

Dalam sebuah pernyataan, Presiden AS Joe Biden mengindikasikan bahwa operasi militer Amerika Serikat akan terus berlangsung.

“Kami di Amerika Serikat tidak berambisi untuk terlibat dalam konflik di Timur Tengah atau di tempat lain di dunia. Namun, saya ingin mengirimkan pesan yang jelas kepada siapapun yang mungkin mempertimbangkan untuk melakukan kekerasan terhadap warga Amerika: jika ada upaya untuk menimbulkan bahaya pada kami, kami akan mengambil tindakan,” ujar Presiden Biden.

Serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat pada Jumat tersebut merupakan eskalasi signifikan dibandingkan dengan serangan-serangan sebelumnya yang ditujukan kepada kelompok milisi yang didukung Iran. Operasi-operasi yang lalu lebih terbatas pada target-target seperti gudang senjata atau pusat-pusat pelatihan.

Amerika Serikat, dalam sikapnya, bertujuan untuk menghalangi dan menghentikan serangan lebih lanjut dari kelompok-kelompok tersebut, sambil berusaha menjauhkan diri dari konflik yang lebih besar dengan Iran di Timur Tengah, yang telah dirundung oleh ketegangan akibat tindakan-tindakan Israel di Gaza.

Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi serangan udara tersebut melalui sebuah pengumuman, menyatakan bahwa target-target di Irak dan Suriah yang terkait dengan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran serta milisi yang terafiliasi dengan mereka telah diserang.

Dalam pengumuman tersebut, disebutkan, “Kekuatan militer kami telah menargetkan lebih dari 85 lokasi, memanfaatkan banyak pesawat, termasuk pembom jarak jauh yang terbang langsung dari Amerika Serikat. Serangan-serangan ini mengandalkan penggunaan amunisi presisi dalam jumlah yang melebihi 125.”

“Objek-objek yang menjadi sasaran mencakup pusat-pusat pengendalian operasi, fasilitas intelijen, sistem peluncuran roket dan rudal, tempat penyimpanan kendaraan udara tanpa awak, serta fasilitas-fasilitas yang terkait dengan rantai pasokan logistik dan amunisi milisi yang didukung IRGC, yang memfasilitasi serangan-serangan terhadap pasukan Amerika Serikat dan sekutu-sekutu mereka.”

Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin, mengeluarkan pernyataan yang menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan tindakan awal sebagai respons dari AS.

Menurut John Kirby, seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional, serangan yang dilakukan telah tercapai dengan hasil yang memuaskan. “Kami percaya serangan tersebut telah mencapai tujuannya dengan sukses,” ujar Kirby.

Letnan Jenderal Douglas Sims, yang menjabat sebagai direktur di Kepala Staf Gabungan, menyatakan bahwa sasaran serangan telah dipilih dengan pertimbangan yang matang dan perhitungan bahwa ada kemungkinan tinggi akan terdapat korban dari pihak Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) dan personel milisi yang terafiliasi.

Serangan tersebut terlaksana tidak lama setelah Presiden Biden mengadakan pertemuan dengan keluarga dari tentara AS yang gugur di Yordania.

Dilaporkan oleh CNN, pesawat pengebom B-1, yang merupakan pesawat pengebom strategis berjarak jauh yang mampu melancarkan serangan dengan senjata presisi dan juga senjata non-presisi, digunakan dalam operasi militer ini.

Ini Alasan AS Mulai Sering Jatuhkan Sanksi ke Israel

journalofserviceclimatology.org – Baru-baru ini, pemerintahan Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Presiden Joe Biden, telah mengambil langkah mencolok dengan mengenakan sanksi terhadap empat warga Israel yang merupakan penduduk di permukiman Tepi Barat.

Alasan di balik pemberlakuan sanksi ini adalah akibat dari tindakan keempat individu tersebut yang ditemukan bersalah karena melakukan tindak kekerasan dan intimidasi terhadap penduduk Palestina di wilayah Tepi Barat.

Individu yang terkena sanksi, yaitu David Chai Chasdai, Einan Tanjil, Shalom Zicherman, dan Yinon Levi, telah terlibat dalam serangkaian tindakan kriminal. Ini termasuk pengorganisasian dan kepemimpinan dalam kerusuhan, pembakaran struktur dan kendaraan, penyerangan terhadap warga sipil, serta Einan Tanjil diketahui terlibat dalam insiden penyerangan terhadap para petani Palestina dan aktivis dari Israel sendiri. Dia melakukan serangan dengan menggunakan batu dan pentungan yang mengakibatkan cedera kepada mereka yang diserang.

Adapun Shalom Zicherman, ia dituduh telah melakukan serangan terhadap aktivis Israel serta kendaraan mereka di wilayah Tepi Barat. “Dia melakukan pemblokiran jalan dan mencoba memecahkan jendela kendaraan yang melintas,” menurut pemerintah AS.

Sedangkan Yinon Levi dikatakan telah memimpin sekelompok pemukim dari pos terdepan di Meitarim Farm dalam melakukan serangan terhadap penduduk sipil Palestina dan komunitas Badui. Levi juga dituduh mengancam warga Palestina dengan kekerasan untuk meninggalkan rumah mereka, serta melakukan pembakaran lahan dan merusak properti milik mereka.

Namun, pemerintah Amerika Serikat telah menegaskan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk menjatuhkan sanksi lebih lanjut yang melibatkan pejabat atau pemerintah Israel itu sendiri.

Sebagai tanggapan terhadap tindakan AS ini, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa sanksi yang diberikan oleh AS tidak diperlukan. “Israel sudah mengambil tindakan terhadap siapa pun yang melanggar hukum, oleh karena itu tidak ada kebutuhan untuk langkah-langkah luar biasa seperti ini,” ucap Netanyahu melalui pernyataan yang dirilis oleh kantornya.

Presiden Joe Biden sudah lama mengecam kekerasan yang dilakukan oleh para pemukim Israel di Tepi Barat yang berujung pada kematian warga sipil Palestina. Isu ini telah menjadi salah satu topik pembahasan antara Biden dan Netanyahu dalam beberapa bulan terakhir.

perusakan aset dan properti milik warga Palestina.

Menurut pemerintah AS, Chasdai secara khusus diidentifikasi sebagai inisiator dan pemimpin dalam kerusuhan yang menghasilkan pembakaran kendaraan dan bangunan.

“Pelaku telah melakukan serangan terhadap warga sipil Palestina dan menyebabkan kerusakan properti yang signifikan di Huwara, yang berujung pada kematian seorang penduduk sipil Palestina,” sebagaimana dinyatakan oleh otoritas Amerika Serikat.

Model India Dikecam Publik Karena Palsukan Kematian

journalofserviceclimatology.org – Model asal India, Poonam Pandey, telah menghadapi gelombang kecaman setelah ia membuat sebuah stunt di media sosial yang menggambarkan dirinya sebagai telah meninggal dunia, yang ternyata adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kesadaran tentang kanker serviks.

Pada hari Jumat, akun media sosialnya mengeluarkan pernyataan yang menyatakan, “Poonam Pandey berjuang berani melawan penyakit ini dan telah berpulang.” Unggahan tersebut menimbulkan kebingungan dan telah dikritik sebagai tindakan yang menyesatkan.

Tidak lama setelah berita tersebut tersebar, berbagai outlet media mulai melaporkan tentang ‘kematian’ Pandey, dan bahkan halaman Wikipedia miliknya sempat diperbaharui dengan informasi yang tidak akurat ini. Ekspresi duka juga datang dari sejumlah selebriti Bollywood yang memberikan penghormatan setelah mendengar berita tersebut.

Namun, beberapa orang menyatakan keraguan mereka atas kebenaran dari berita ini, terutama karena empat hari sebelum unggahan tersebut, Pandey telah memposting video dirinya di atas kapal di Goa. Dalam video itu, ia terlihat dalam keadaan yang baik dan sehat.

Poonam Pandey, model berumur 32 tahun, mengakui kepada pengikutnya yang berjumlah 1,3 juta orang melalui sebuah video bahwa pemberitaan mengenai kematiannya hanyalah sebuah inscenasi.

“Saya akui, saya mengarang cerita tentang kematian saya, dan saya sadar itu adalah langkah yang sangat drastis. Namun, akibatnya, sekarang kita semua telah mulai mendiskusikan tentang kanker serviks, kan?” ujar Pandey dalam video tersebut.

Dia menyatakan kebanggaannya atas hasil yang dicapai melalui upayanya dalam meningkatkan kesadaran publik tentang kanker serviks.

Namun, tindakannya tersebut sekarang mengundang banyak kritik dan ketidaksetujuan.

Salah satu komentator mengecam aksi Pandey sebagai “tindakan yang mencari perhatian,” sementara orang lain berkomentar, “Terjun dalam praktek yang menyesatkan seperti mengada-ada kematian sendiri, dengan alasan ‘meningkatkan kesadaran’… adalah tindakan yang tidak hanya tidak etis tetapi juga manipulatif.”

“Pada dasarnya, Anda seharusnya malu atas apa yang Anda lakukan. Di masa mendatang, mungkin tidak ada yang akan mempercayai jika Anda benar-benar meninggal!” tambah komentator lainnya.

Pandey memulai perjalanan kariernya di dunia model pada tahun 2010 dan dikenal karena keberanian dalam aksinya.

Dia pernah membuat janji kontroversial bahwa ia akan tampil telanjang jika tim kriket India berhasil memenangkan Piala Dunia Kriket pada tahun 2011, dan ia menepati janji tersebut dengan memposting sebuah video dirinya tanpa busana di Stadion Wankhede, tempat berlangsungnya pertandingan final.

Tak hanya itu, Pandey juga berakting dalam sebuah film thriller erotis pada tahun 2013 yang berjudul “Nasha”, dengan memerankan seorang guru yang terlibat hubungan seksual dengan dua muridnya.

Sementara itu, India memiliki angka kasus kanker serviks yang cukup tinggi, menurut data dari WHO, dengan angka kematian lebih dari 200 wanita per hari akibat penyakit ini.

Para aktivis kesehatan telah mendesak pemerintah untuk melaksanakan kampanye vaksinasi HPV secara nasional bagi remaja perempuan, yang telah terbukti secara signifikan menurunkan angka kejadian kanker serviks di berbagai negara lain.

PBB Menyatakan Sebanyak 17 Ribu Anak Hidup Tanpa Pendamping di Gaza

journalofserviceclimatology.org – Pada hari Jumat, tanggal 2 Februari, PBB mengeluarkan sebuah pernyataan yang mencatat bahwa ada sekitar 17.000 anak di Jalur Gaza yang saat ini hidup tanpa kehadiran orang tua atau wali mereka. Jonathan Crickx, yang menjabat sebagai Kepala Komunikasi UNICEF untuk wilayah Palestina, menyoroti bahwa jumlah ini mencerminkan hampir 1 persen dari total warga yang terpaksa mengungsi di Gaza, sebuah wilayah dengan populasi sekitar 2,3 juta orang.

Dalam kunjungan terbarunya ke Gaza, Crickx melaporkan bahwa ia bertemu dengan 12 anak, dan tiga di antara mereka telah mengalami kehilangan orang tua. Ia menegaskan bahwa di balik angka-angka yang disajikan tersebut ada cerita nyata dari anak-anak yang menghadapi realitas yang sangat sulit dan menantang.

Sebagai ilustrasi, diambil kasus Razan, seorang bocah perempuan berusia 11 tahun yang tragisnya harus kehilangan hampir seluruh keluarganya serta menjalani amputasi pada kakinya.

Crickx mengungkapkan bahwa Razan masih dalam keadaan shock, berusaha menyesuaikan diri dengan keterbatasan fisiknya di tengah minimnya akses terhadap layanan rehabilitasi. Situasi ini semakin diperparah oleh ketidakmampuan keluarga besar yang sudah terbebani untuk merawat anak-anak tambahan, akibat kekurangan sumber daya dasar seperti makanan, air, dan tempat berlindung.

Kondisi ini telah memberikan dampak yang mendalam terhadap kesehatan mental anak-anak di Palestina. Banyak dari mereka menunjukkan gejala psikologis akut, termasuk kecemasan yang meningkat, hilangnya selera makan, gangguan tidur, serta reaksi panik saat terdengar suara ledakan.

Crickx menambahkan bahwa UNICEF memperkirakan hampir seluruh anak di Gaza, yang jumlahnya melebihi satu juta, saat ini memerlukan bantuan kesehatan mental dan dukungan psikososial. Menurutnya, penawaran bantuan pada tingkat yang diperlukan ini hanya dapat dilakukan jika ada gencatan senjata yang efektif dan bertahan lama.

WHO Khawatir Kondisi Tidak Manusiawi di Gaza Picu Wabah Penyakit

journalofserviceclimatology.org – Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang menjabat sebagai Direktur Jenderal WHO, telah mengutarakan keprihatinan serius mengenai situasi di Rumah Sakit Eropa di Gaza Selatan. Melalui platform media sosial X, beliau menyampaikan bahwa kondisi fasilitas kesehatan ini tidak layak dan berpotensi memperparah penyebaran penyakit.

Ghebreyesus menyatakan bahwa Rumah Sakit Eropa, yang terletak di Khan Younis, bagian selatan Gaza, saat ini mengalami kelebihan kapasitas pasien akibat dari konflik yang berlangsung. Dengan kapasitas resmi hanya untuk 670 tempat tidur, rumah sakit ini kini harus menangani 800 pasien, menunjukkan betapa tingginya beban yang mereka hadapi.

Menurut Ghebreyesus, hal ini diperparah oleh kenyataan bahwa berbagai layanan penting seperti unit gawat darurat, perawatan intensif, operasi bedah, perawatan luka, serta layanan untuk ibu dan anak, laboratorium, dan radiologi hanya berjalan dengan sangat terbatas.

Situasi rumah sakit ini semakin sulit karena akses menuju ke sana terhalang oleh serangan militer Israel yang berlangsung di wilayah tersebut, menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi oleh rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, melalui media sosial X, telah mengungkapkan pandangannya pada hari Jumat mengenai kondisi yang dia anggap sangat buruk di Rumah Sakit Eropa di Gaza Selatan. Dalam cuitannya, Ghebreyesus menjelaskan bahwa tim WHO, bersama dengan mitra, telah melihat langsung keadaan yang sangat padat di fasilitas kesehatan tersebut, yang ia gambarkan sebagai situasi yang tidak layak bagi pasien, tenaga kesehatan, serta mereka yang membutuhkan tempat perlindungan yang aman.

Ghebreyesus menyoroti bahwa pembatasan akses ke air bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit di area tersebut.

Selama kunjungan itu, delegasi WHO memberikan suplai medis yang cukup untuk menangani 9.000 pasien di Rumah Sakit Eropa, menunjukkan komitmen organisasi terhadap mitigasi krisis kesehatan ini.

Ghebreyesus juga menekankan pentingnya gencatan senjata segera, menyuarakan kebutuhan mendesak akan perdamaian untuk memungkinkan bantuan kesehatan yang efektif.

Data yang dirilis oleh otoritas kesehatan Palestina menunjukkan jumlah korban yang sangat tinggi sebagai akibat dari konflik militer di Jalur Gaza. Dilaporkan bahwa sekitar 27.000 warga Palestina, dengan mayoritas perempuan dan anak-anak, telah kehilangan nyawa, dan 66.000 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan militer Israel. Serangan ini merupakan respons terhadap serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 warga Israel menurut klaim negara tersebut.

500 Orang Tewas, Israel Bom RS Baptis Al-Ahli di Gaza

journalofserviceclimatology.org – Pada hari Selasa tanggal 17 Oktober, terjadi sebuah serangan yang mengejutkan terhadap Rumah Sakit Baptis Al-Ahli yang terletak di Jalur Gaza, Palestina, yang dilakukan oleh militer Israel. Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan di Gaza, serangan tersebut telah menyebabkan kematian sedikitnya 500 orang, dan telah digambarkan sebagai tindakan yang sangat tidak berperikemanusiaan.

Dalam insiden yang tragis ini, yang telah dicatat sebagai serangan paling mematikan oleh Israel sejak konflik tahun 2008, gambar-gambar yang muncul dari lokasi menunjukkan api yang besar, puing-puing, kaca yang pecah, dan sisa-sisa korban yang tersebar di seluruh area rumah sakit.

Militer Israel, yang telah menargetkan fasilitas kesehatan di kota Gaza, dilaporkan telah melakukan hal ini dengan pengetahuan penuh bahwa banyak warga sipil mencari perlindungan di rumah sakit tersebut untuk menghindari serangan udara yang intensif di wilayah tersebut.

Di samping itu, ada tuduhan bahwa Israel secara tidak tepat menyalahkan kelompok militan Palestina atas kehancuran tersebut, mengklaim bahwa kerusakan diakibatkan oleh peluncuran roket yang tidak berhasil, sambil mencoba menghilangkan bukti digital yang ada. Ini bertentangan dengan pernyataan sebelumnya yang dibuat oleh militer Israel yang mengakui serangan terhadap rumah sakit melalui media sosial, mengklaim bahwa serangan tersebut bertujuan untuk menyerang anggota Hamas yang diduga berada di gedung tersebut.

Personel medis yang bekerja di lapangan telah menggambarkan serangan tersebut dengan istilah yang sangat kuat, termasuk genosida dan kejahatan perang. Nebal Farsakh, seorang petugas medis dari Bulan Sabit Merah Palestina, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera yang dilakukan pada hari Rabu tanggal 18 Oktober 2023, menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan kejahatan perang dan genosida.

Nebal Farsakh, seorang petugas medis, memberikan rincian tambahan mengenai situasi menyedihkan di Rumah Sakit Baptis Al-Ahli di Gaza setelah serangan udara Israel. Farsakh menyatakan bahwa banyak warga sipil Palestina telah mencari perlindungan di kompleks rumah sakit tersebut, khususnya setelah Israel memberikan peringatan evakuasi kepada penduduk di bagian utara Gaza.

Menurut Farsakh, orang-orang yang berada di sekitar rumah sakit tidak punya pilihan selain meninggalkan rumah mereka mengikuti perintah tersebut. Namun, mereka tidak dapat mengungsi lebih jauh ke selatan karena infrastruktur dan transportasi yang rusak parah. Farsakh menekankan bahwa tragedi ini khususnya tragis karena semua korban adalah warga sipil yang meninggalkan rumah mereka mencari tempat yang mereka anggap aman, seperti rumah sakit, yang seharusnya merupakan zona yang dilindungi menurut hukum internasional.

Ziad Shehadah, seorang dokter di Gaza, juga berbicara kepada Al Jazeera, menjelaskan bahwa warga sipil meninggalkan rumah mereka dengan harapan bahwa mereka akan lebih aman di sekolah dan rumah sakit. Namun, dalam waktu singkat, banyak yang tewas di tempat yang seharusnya menjadi tempat perlindungan mereka. Shehadah menyampaikan kekhawatiran bahwa jumlah korban jiwa bisa jauh melebihi angka yang sudah dilaporkan dan menyebut kejadian tersebut sebagai “pembantaian”.

Rumah Sakit Baptis Al-Ahli, yang dioperasikan oleh Keuskupan Episkopal Yerusalem dari denominasi Kristen Anglikan, telah mengalami kerusakan parah yang mendapat kecaman dari berbagai pihak termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta negara-negara seperti Mesir, Qatar, dan Turki.

Ismail Haniyeh, pemimpin Hamas, menyatakan bahwa tindakan keras yang dilakukan Israel merupakan bukti kekalahan mereka pada tanggal 7 Oktober dan menyalahkan Amerika Serikat atas dukungannya terhadap Israel dalam agresi yang terjadi.

Haniyeh menegaskan, “Amerika Serikat memiliki tanggung jawab atas serangan terhadap rumah sakit tersebut karena dukungan yang mereka berikan untuk agresi Israel,” ucapnya.

Di tingkat internasional, Rusia dan Uni Emirat Arab telah mengambil langkah dengan meminta diadakannya pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membahas serangan yang terjadi pada rumah sakit di Gaza.

Balas AS, Moskow Pertimbangkan Kirim Senjata Nuklir ke Kuba

journalofserviceclimatology.org – Reaksi Rusia terhadap rencana Amerika Serikat untuk menempatkan senjata nuklir di Inggris telah menciptakan ketegangan geopolitik yang signifikan. Anggota parlemen Rusia, Aleksey Zhuravlev, telah menyarankan sebagai tindakan balasan bahwa Rusia harus mempertimbangkan penempatan senjata nuklir di negara-negara yang bersekutu dengannya dan yang berlokasi dekat dengan Amerika Serikat, seperti Kuba.

Pernyataan ini dilontarkan oleh Zhuravlev, yang merupakan Wakil Ketua Komite Pertahanan Parlemen Rusia dan juga pemimpin Partai Rodina, melalui media sosial Telegram. Dia mencatat bahwa meskipun Inggris memiliki senjata nuklirnya sendiri dan AS telah menempatkan senjata nuklir di negara-negara Eropa yang berdekatan dengan Rusia, penambahan senjata nuklir di Inggris tidak akan berpengaruh signifikan terhadap dinamika militer-politik. Informasi tersebut dikutip dari sumber berita RT pada hari Selasa, tanggal 30 Januari 2024.

Dalam konteks perimbangan kekuatan, politisi ini menilai penting bagi Moskow untuk memikirkan penempatan senjata nuklirnya di lokasi yang lebih dekat dengan wilayah AS, menyebutkan negara-negara seperti Kuba, Venezuela, dan Nikaragua sebagai kemungkinan pilihan penempatan.

Zhuravlev menggarisbawahi bahwa teknologi militer, khususnya kapabilitas rudal, telah berkembang pesat sejak Krisis Rudal Kuba pada tahun 1962. Dia mengklaim bahwa rudal hipersonik Rusia yang diluncurkan dari teritori mereka sendiri akan mencapai target di AS dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan rudal subsonik yang ditembakkan dari dalam wilayah AS.

Aleksey Zhuravlev menambahkan bahwa Rusia memiliki armada penerbangan strategis dan kapal selam yang luas, yang beroperasi di berbagai lokasi rahasia di seluruh dunia. Dia menekankan, “Kami memiliki kemampuan untuk merespons setiap provokasi yang ditujukan AS dan NATO, sebuah aliansi yang mereka dominasi,” menurut Zhuravlev.

Kementerian Luar Negeri Rusia telah mengeluarkan peringatan bahwa tindakan balas diperlukan jika kepala perang nuklir AS ditempatkan kembali ke tanah Britania. Terlebih lagi, Rusia secara konsisten mengkritik Barat karena meningkatkan ketegangan di benua Eropa.

Di sisi lain, komentar dari berbagai pejabat Barat, termasuk dari Inggris, Jerman, Estonia, serta Ketua Komite Militer NATO, telah menambah ketegangan dengan pernyataan mereka tentang potensi serangan Rusia terhadap Eropa dalam beberapa tahun ke depan. Mereka menyerukan kepada pemerintah dan warga negara di Barat untuk bersiap menghadapi kemungkinan konflik besar dengan Moskow.

Tetapi Rusia menentang keras segala sugesti bahwa mereka memiliki niat untuk menyerang negara-negara Eropa. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menggambarkan klaim tersebut sebagai disinformasi. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin juga membantah tuduhan tersebut, menegaskan bahwa Moskow tidak memiliki kepentingan geopolitik, ekonomi, atau militer dalam memulai perang melawan NATO. Sebaliknya, Putin menyatakan bahwa Rusia lebih berkeinginan untuk memperbaiki dan mengembangkan hubungannya dengan blok yang dipimpin oleh AS.

Israel Tidak Peduli Banyak Warga Sipil Palestina Terbunuh di Gaza

journalofserviceclimatology.org – Menurut laporan yang diterbitkan oleh The New York Times (NYT), terdapat indikasi bahwa pihak Israel, dalam komunikasi tertutup dengan mitra-mitranya di Amerika Serikat, telah menyampaikan sikap tidak terganggu meskipun serangan mereka mengakibatkan banyak korban di kalangan warga sipil Palestina dalam upaya untuk mengatasi Hamas di Gaza.

Pemerintah AS di bawah kepemimpinan Presiden Joe Biden tercatat masih memberikan dukungan kepada Israel namun mulai menyuarakan kekhawatiran lebih tajam atas respon yang diberikan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap Hamas, terkait dengan situasi kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza. Analisis yang dirilis oleh NYT pada hari Senin, tanggal 30 Oktober 2023, menyebutkan bahwa pejabat Amerika Serikat mulai memahami bahwa pemimpin Israel menerima kenyataan bahwa jatuhnya korban sipil dalam jumlah yang besar adalah konsekuensi yang dianggap dapat diterima dalam rangka mencapai tujuan militer mereka.

NYT mengaitkan pandangan ini dengan tindakan militer bersejarah yang menghancurkan, seperti yang terjadi pada masa Perang Dunia II, dimana penggunaan senjata atom oleh AS terhadap Hiroshima dan Nagasaki di Jepang digunakan sebagai cara untuk mengakhiri perang dengan Jerman dan Jepang.

Dalam edisi cetak yang terbit pada hari Selasa, cerita ini menarik perhatian dari pengacara dan aktivis Steven Donziger, yang mengomentari potensi hubungan antara pandangan tersebut dan tingginya angka kematian warga sipil serta anak-anak di Gaza, sebagaimana diungkapkan melalui Instagram.

Donziger menyinggung tentang bagaimana mentalitas seperti itu mungkin berakibat pada tindakan militer Israel yang agresif, termasuk serangan besar di kamp pengungsi Jabalia di Gaza yang sangat padat penduduk, dan kemungkinan adanya penargetan terhadap warga sipil. Mehdi Hassan, seorang presenter di MSNBC, juga menyoroti artikel tersebut, menunjukkan bahwa detail penting ini hampir luput dari perhatian di tengah-tengah laporan yang lebih luas.

Artikel The New York Times (NYT) membahas tanggapan pemerintah AS terhadap konflik Israel-Palestina, mencatat perbedaan yang signifikan dalam dukungan internasional dibandingkan dengan situasi di Ukraina. Awalnya, terdapat harapan dari administrasi Biden bahwa dukungan serupa dengan yang diberikan untuk Ukraina bisa terbentuk untuk Israel setelah serangan 7 Oktober 2023 oleh Hamas. Namun, realitas geopolitik segera menunjukkan bahwa dukungan tersebut tidak akan mudah dicapai.

NYT menyoroti bahwa negara-negara di seluruh dunia, khususnya negara berkembang, telah menunjukkan sikap yang berbeda dengan mengambil langkah yang kontras karena kenaikan jumlah korban di Palestina. Bahkan sekutu-sekutu Eropa Amerika Serikat terlihat terpecah dalam tanggapan mereka terhadap konflik Israel tersebut.

Menurut NYT, pejabat AS menyimpulkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tampaknya tidak memiliki strategi jelas untuk masa depan Gaza setelah pengambilalihan sebagian atau seluruh wilayah oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Laporan juga menyebutkan bahwa Pentagon telah meminta Israel untuk menunda serangan darat, agar AS memiliki waktu lebih untuk memperkuat pertahanan udara di Irak dan Suriah, dan juga memberikan waktu untuk negosiasi guna membebaskan sekitar 200 sandera yang ditahan oleh Hamas.

Operasi militer darat Israel dilaporkan dimulai pada hari Jumat dengan penutupan komunikasi di Gaza. IDF mengumumkan pada hari Rabu bahwa sejauh ini 15 tentara mereka telah gugur dalam operasi militer yang sedang berlangsung, dan diperkirakan akan ada lebih banyak lagi korban di pihak Israel seiring berlanjutnya operasi militer tersebut.

Menteri Israel Singgung Opsi Jatuhkan Bom Nuklir di Gaza

journalofserviceclimatology.org – Meskipun ada penolakan resmi, pernyataan dan tindakan dari beberapa figur tinggi di pemerintahan Israel menunjukkan adanya indikasi agenda yang sangat keras terhadap Palestina. Contoh terbaru datang dari Amichai Eliyahu, seorang menteri dari partai radikal Otzma Yehudit.

Dalam sebuah pernyataan kontroversial, dia menyarankan bahwa penggunaan bom nuklir di Jalur Gaza bisa menjadi salah satu strategi Israel dalam konfliknya dengan Hamas. Saat diwawancarai oleh Radio Kol Berama, dan ditanya soal kemungkinan penggunaan senjata nuklir, Menteri Warisan Budaya, Amichai Eliyahu, menyatakan, “Itu termasuk dalam spektrum opsi yang kami miliki.”

Walaupun Israel belum pernah secara terbuka mengkonfirmasi atau membantah kepemilikan senjata nuklir, negara ini dianggap memiliki arsenil nuklir. Berdasarkan laporan dari Center for Arms Control and Non-Proliferation, diperkirakan Israel memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir. Israel belum menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan tidak semua fasilitas nuklirnya berada di bawah pengawasan dari International Atomic Energy Agency (IAEA).

Meski Eliyahu terkait dengan Itamar Ben Gvir yang dikenal sangat konservatif, ia tidak termasuk dalam kabinet keamanan yang membuat keputusan strategis selama konflik, dan tidak memiliki kontrol atas kabinet perang yang memimpin operasi terhadap Hamas. Selama wawancara tersebut, Eliyahu juga menyampaikan penentangannya terhadap pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, dengan pernyataan yang mengejutkan, “Kami tidak akan memberikan bantuan kemanusiaan kepada Nazi.”

Amichai Eliyahu, yang terkenal dengan pandangannya yang kontroversial, telah mengeklaim bahwa tidak ada warga sipil di Gaza yang tidak terlibat dalam konflik. Laporan Times of Israel menyebutkan bahwa ia mendukung gagasan untuk Israel merebut kembali wilayah Jalur Gaza dan membangun kembali permukiman di sana. Eliyahu dikutip mengatakan, “Mereka bisa pindah ke Irlandia atau ke gurun, para pelaku kekerasan di Gaza harus mencari solusi mereka sendiri.”

Lebih lanjut, dia menyatakan bahwa warga di bagian utara Jalur Gaza tidak berhak atas hidup, dan menyebut bahwa orang-orang yang mengibarkan bendera Palestina atau Hamas “tidak layak hidup di dunia ini.”

Namun, komentar-komentar ini telah mendapatkan kecaman dari pejabat tinggi Israel, termasuk PM Israel Benjamin Netanyahu dan pemimpin oposisi Lapid. Menurut laporan Al Jazeera, Netanyahu berpendapat, “Pernyataan Amichai Eliyahu tidak mencerminkan kenyataan yang sebenarnya,” dan menegaskan bahwa “Israel dan IDF selalu bertindak sesuai dengan standar hukum internasional yang paling ketat untuk menghindari kerugian pada warga sipil, dan kami akan terus berusaha keras menuju kemenangan.”

Komentar ini muncul di tengah meningkatnya kritik internasional terhadap Israel atas jumlah korban sipil di Gaza. Sejak 7 Oktober, telah dilaporkan lebih dari 9.400 warga Palestina kehilangan nyawa, dengan mayoritas adalah warga sipil, di wilayah yang telah lama dikucilkan.

Takut Diserang Israel, Iran Tarik Para Komandan IRGC dari Suriah

journalofserviceclimatology.org – Laporan terbaru menyebutkan bahwa Iran telah memulangkan sejumlah perwira tinggi dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang berada di Suriah. Hal ini dilakukan karena adanya kecemasan atas kemungkinan mereka menjadi sasaran serangan pembunuhan yang dilakukan oleh Israel. Pengungkapan tentang penarikan perwira IRGC ini dilaporkan oleh Jerusalem Post, yang mengandalkan informasi dari lima sumber yang mengetahui situasi tersebut.

Selama satu dekade terakhir, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah berada di Suriah untuk mendukung pemerintahan Presiden Bashar al-Assad dalam konflik sipil yang berlangsung di negara tersebut. Mereka menghadapi tantangan intensif di wilayah tersebut, terutama sejak Desember tahun lalu, dengan serangan udara yang dilancarkan oleh Israel. Serangan tersebut telah mengakibatkan kerugian nyawa pada beberapa anggota Garda Revolusi, termasuk seorang perwira tinggi intelijen dalam korps.

Menurut tiga informan yang berbicara dengan Reuters, keputusan Iran untuk mengevakuasi para komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dari Suriah sebagian besar dipengaruhi oleh keinginan negara tersebut untuk menghindari konfrontasi langsung di kawasan Timur Tengah. Meskipun ada penarikan komandan, Iran tetap bertekad untuk mempertahankan kehadiran pasukannya di Suriah, yang merupakan komponen kunci dari pengaruh strategis Teheran di kawasan tersebut. Iran, yang dikenal sebagai pendukung dari Hamas, menahan diri dari terlibat langsung dalam konflik yang melibatkan Hamas dan Israel di Gaza.

Akan tetapi, Iran masih mendukung berbagai kelompok yang aktif dalam konflik di kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi Syiah di Irak—yang semua merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai “Poros Perlawanan”, yang menentang Israel dan kepentingan Amerika Serikat. Seorang pejabat senior keamanan regional yang mendapat informasi dari Teheran menyebut bahwa para komandan senior IRGC telah meninggalkan Suriah bersama dengan sekelompok perwira tingkat menengah, mengindikasikan ini sebagai penurunan level keberadaan mereka di sana. Sumber tersebut tidak memberikan detail mengenai jumlah personel yang ditarik, dan Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen jumlah pastinya.

Kantor berita tersebut mencatat bahwa mereka tidak berhasil mendapatkan tanggapan dari Korps Garda Revolusi Islam ketika dihubungi untuk memberikan keterangan, dan Kementerian Informasi Suriah juga tidak memberikan jawaban atas pertanyaan yang dikirim melalui email terkait isu ini. Sepanjang konflik saudara di Suriah, Iran diketahui telah mengerahkan ribuan personel militer serta milisi ke negara tersebut. Di antara mereka yang dikirim adalah anggota Garda Revolusi, yang mana secara resmi memiliki peran sebagai penasihat, namun yang lebih banyak adalah milisi Syiah dari berbagai daerah di Timur Tengah.

Menurut tiga sumber, Korps Garda Revolusi Islam Iran berencana untuk mengendalikan operasi mereka di Suriah dari kejauhan, dengan dukungan dari sekutu mereka, Hizbullah Lebanon. Upaya untuk mendapatkan komentar dari Hizbullah Lebanon terkait hal ini belum mendapatkan respons. Sumber lain yang dekat dengan situasi di Iran menyatakan bahwa mereka yang masih berada di Suriah telah mengosongkan kantor mereka dan tidak lagi terlihat secara terbuka. “Iran tidak berencana untuk sepenuhnya meninggalkan Suriah, namun mereka sedang berusaha untuk meminimalisir keberadaan dan aktivitas mereka sejauh mungkin,” ungkap pejabat regional tersebut.

Dikatakan pula bahwa perubahan tersebut belum memiliki efek signifikan terhadap operasi di lapangan. Sumber yang berada di Iran menambahkan bahwa pengurangan ini merupakan langkah strategis Teheran untuk menjauhkan diri dari konflik antara Israel dan Gaza.

Israel, yang telah melakukan serangkaian serangan udara dalam beberapa tahun terakhir dengan tujuan untuk mengurangi pengaruh Iran di Suriah, sering terlibat dalam pertukaran tembakan dengan Garda Revolusi dan Hizbullah, terutama sejak insiden perbatasan antara Lebanon dan Israel pada 8 Oktober 2023. Israel umumnya tidak memberikan komentar tentang operasi mereka di Suriah dan belum memberikan konfirmasi terhadap serangan yang terjadi baru-baru ini. Ketika diminta tanggapan oleh Reuters, militer Israel menyatakan bahwa mereka tidak memberikan komentar pada laporan media internasional.

 

Prediksi Pakar Asing Tentang Nasib RI Jika Prabowo Menang Pilpres 2024

journalofserviceclimatology.org – Ian Wilson, seorang analis politik dan keamanan internasional dari Universitas Murdoch, telah memberikan prediksi mengenai masa depan politik Indonesia dalam konteks kemungkinan kemenangan Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden tahun 2024. Wilson mengemukakan pandangannya dalam sebuah artikel opini yang berjudul “An election to end all election?” yang dipublikasikan di situs Fulcrum pada tanggal 30 Januari, yang memiliki keterkaitan dengan lembaga kajian ISEAS – Yusof Ishak Institute.

Dalam artikel tersebut, Wilson menggarisbawahi bahwa, berdasarkan kemampuan Prabowo untuk mempertahankan popularitas yang setara dengan Presiden Jokowi, ada peluang bahwa Prabowo mungkin akan bergerak menuju penguatan kekuatan otoriter dan mungkin berupaya untuk menggulirkan pembatalan amandemen konstitusi yang telah ada sejak tahun 1999, serta potensi pengakhiran sistem pemilihan langsung.

Debat mengenai penggunaan sistem pemilihan proporsional tertutup telah menjadi topik hangat di Indonesia pada Mei 2023.

Pada periode tersebut, isu yang berkembang adalah terkait potensi Mahkamah Konstitusi (MK) untuk kembali menerapkan sistem proporsional tertutup dalam pemilihan umum, khususnya untuk pemilihan kepala daerah. Akan tetapi, gagasan tersebut mendapat penolakan dari berbagai pihak, termasuk dari delapan fraksi partai politik yang ada di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) merupakan satu-satunya partai yang tidak menunjukkan penolakan terhadap sistem proporsional tertutup. Sistem ini membatasi pemilih untuk hanya dapat memilih partai, dan tidak memberi mereka kemampuan untuk memilih calon perwakilan rakyat secara individu.

Ian Wilson menyoroti bahwa Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) di bawah kepemimpinan Prabowo menentang reformasi dengan orientasi liberal demokratis. Menurut Wilson, Gerindra ingin kembali ke sistem yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 versi asli.

Dokumentasi pada situs Cambridge.org mengindikasikan bahwa UUD 1945 versi asli dibuat oleh sejumlah kecil elit yang tergabung dalam badan yang dibentuk selama era pendudukan Jepang di tahun 1945.

Wilson menyatakan bahwa langkah semacam ini akan menghapus amandemen konstitusi yang diimplementasikan antara tahun 1999 hingga 2002, yang menegaskan dukungan terhadap pemilihan umum yang demokratis, perlindungan hak asasi manusia, serta pembatasan masa jabatan presiden menjadi dua periode lima tahun.

Selain itu, Wilson juga menyinggung tentang aksi Prabowo di tahun 2014. Pada waktu itu, Prabowo, sebagai ketua umum Gerindra, memimpin koalisi multipartai di parlemen yang berhasil mengesahkan Rancangan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (RUU Pilkada).

Pengesahan undang-undang tersebut merupakan proses yang menuntut keputusan melalui voting, mengingat sengitnya perdebatan yang terjadi. Koalisi Merah Putih (KMP) mendukung regulasi ini di parlemen.

KMP, yang terdiri dari berbagai fraksi di parlemen, meliputi 73 anggota dari Golkar, 55 dari PKS, 44 dari PAN, 32 dari PPP, dan 22 dari Gerindra, mendukung undang-undang yang memberikan wewenang kepada parlemen untuk menunjuk kepala daerah, termasuk gubernur, mirip dengan sistem yang diterapkan sebelum tahun 2005.

Di sisi lain, koalisi yang mendukung Jokowi-Jusuf Kalla saat itu tetap berdiri teguh di balik konsep pemilihan kepala daerah secara langsung oleh masyarakat.

Ian Wilson menilai pertarungan politik ini sebagai suatu yang menggabungkan berbagai faksi yang niatnya adalah untuk mereduksi kemajuan demokrasi yang telah dicapai sejak era reformasi. Ia juga menyinggung tentang usaha Jokowi untuk mengkonsolidasikan dan mempertahankan warisannya dalam sistem politik Indonesia.

Dalam pemilihan presiden yang akan datang, Prabowo Subianto memilih Gibran Rakabuming Raka, putra dari Presiden Indonesia saat ini, Joko Widodo, sebagai calon wakil presiden pendampingnya. Langkah ini menjadi mungkin setelah Mahkamah Konstitusi, yang diketuai oleh Anwar Usman—paman dari Gibran—memperkenalkan sebuah penyesuaian pada persyaratan usia minimum untuk calon presiden dan wakil presiden menjadi 40 tahun.

Para hakim Mahkamah Konstitusi memberikan dispensasi yang memungkinkan individu di bawah 40 tahun untuk mencalonkan diri sebagai presiden atau wakil presiden dengan prasyarat pengalaman kepemimpinan sebagai kepala daerah.

Selanjutnya, pada tahun 2023, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengusulkan agar MPR diakui sebagai lembaga eksekutif yang paling tinggi. Ian Wilson merujuk kepada pernyataan dari La Nyalla Mattalitti, ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), yang menilai pemilihan presiden langsung berpotensi merusak kohesi nasional dan sebaiknya diganti dengan pemilihan tidak langsung oleh MPR, sesuai dengan sistem yang dipraktikkan selama era Orde Baru.

Di tengah situasi ini, Habiburokhman, wakil ketua dari Partai Gerindra, menyatakan bahwa usulan untuk kembali ke konstitusi pra-reformasi akan dikaji kembali setelah terbentuknya pemerintahan yang baru.

Wilson juga mengemukakan prediksinya bahwa di bawah kepemimpinan Prabowo, bisa jadi Indonesia akan memiliki pendekatan pemerintahan yang minim oposisi, yang diperkuat oleh retorika nasionalis guna menjaga kesatuan.

Prabowo dan Gibran, yang diusung oleh Koalisi Indonesia Maju sebagai pasangan capres-cawapres, didukung oleh konsolidasi partai-partai seperti Gerindra, Golkar, Demokrat, PSI, PAN, PBB, dan Partai Gelora.
Selama periode pemerintahan Jokowi, fenomena pemerintahan tanpa oposisi yang signifikan juga terlihat. Jokowi mengejutkan banyak pihak dengan mengangkat Prabowo Subianto, mantan rivalnya dalam pemilihan presiden 2019, sebagai menteri pertahanan.

Menurut Wilson, strategi ini diarahkan untuk mengurangi ketegangan politik di parlemen dan meminimalisir pembentukan kelompok-kelompok kekuatan alternatif yang bisa bersaing.

Ini dilakukan bukan secara eksplisit, melainkan melalui proses koalisi dan negosiasi yang dilakukan oleh para elit politik.

Pada saat yang sama, Prabowo telah menyuarakan keinginannya untuk mencakup “semua pihak” dalam pemerintahan di masa yang akan datang.

Wilson berpendapat bahwa dalam skenario seperti ini, meskipun proses demokratis fundamental seperti pemilihan umum bisa tetap ada, mereka mungkin akan dilakukan dalam skala yang lebih terbatas.

Wilson menekankan bahwa ini dapat mengakibatkan hilangnya potensi untuk menciptakan perubahan yang berarti dalam pemerintahan.

 

 

BPS Menyatakan Malaysia Jadi Negara Tujuan Utama Orang Indonesia

journalofserviceclimatology.org – Menurut data terkini dari Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat sebanyak 7,51 juta perjalanan dilakukan oleh warga Indonesia ke luar negeri selama tahun 2023. Statistik ini mencerminkan aktivitas perjalanan warga negara Indonesia atau yang sering disebut wisatawan nasional (wisnas).

Dari total jumlah perjalanan tersebut, destinasi terpopuler adalah Malaysia, yang menarik 27,98% dari total perjalanan wisnas.

“Ini berbeda dari tahun 2022, di mana tujuan utama wisatawan adalah Arab Saudi,” ungkap sumber BPS dalam sebuah konferensi pers pada tanggal 2 Januari.

Untuk tahun 2023, Arab Saudi berada di urutan kedua sebagai tujuan wisnas dengan persentase 17,41%. Disusul kemudian oleh Singapura dengan 17%, Kamboja dengan 5,24%, Timor Leste dengan 4,98%, dan Thailand dengan 4,71%.

Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah kedatangan wisatawan internasional (wisman) ke Indonesia selama tahun 2023 berjumlah 11,67 juta. Bulan Desember mencatat angka tertinggi kunjungan, sedangkan Februari mencatat angka terendah.

Meskipun demikian, angka ini masih belum mencapai puncak kunjungan sebelum terjadi pandemi Covid-19, yakni pada tahun 2019, ketika Indonesia mencatat 16,11 juta kedatangan wisman.

“Pencapaian ini, jika dibandingkan dengan tahun 2021 dan 2022, menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam hal jumlah kunjungan wisman,” ujar perwakilan BPS.

Ini Alasan Australia Ogah Kirim Senjata Ke Israel

journalofserviceclimatology.org – Pemerintah Australia menunjukkan keengganan atau penundaan dalam mengirim bantuan senjata ke Israel, di tengah konflik berkelanjutan di Jalur Gaza yang dimulai sejak Oktober tahun sebelumnya. Kenaikan jumlah korban yang signifikan di Gaza, yang telah melampaui angka 26.000 karena aksi militer Israel, menjadi salah satu faktor dalam pertimbangan tersebut.

Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Anthony Albanese, pemerintah telah menangguhkan keputusan terkait ekspor peralatan militer ke Israel.

Dilaporkan oleh Al Jazeera pada tanggal 1 Februari, seorang sumber menyebutkan adanya perlambatan yang tampaknya disengaja dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan Israel selama konflik di Gaza berlangsung.

Sumber tersebut menambahkan bahwa tampaknya tidak ada keinginan dari pihak pemerintah untuk muncul sebagai pendukung atau penentang dari penjualan peralatan militer ke Israel.

Israel telah mencoba untuk mengakuisisi peralatan militer buatan Australia, termasuk sistem anti-drone. Namun, menurut sumber tersebut, belum ada respons resmi dari Kementerian Pertahanan Australia meskipun sudah beberapa bulan berlalu.

Individu yang terlibat dalam proses perizinan ekspor senjata di Australia mengungkapkan adanya kesulitan dalam menentukan penyebab spesifik dari penundaan persetujuan ekspor senjata tersebut.

Beberapa pihak menduga bahwa Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, memainkan peran dalam proses keputusan ini.

Menurut sumber dari industri yang diwawancarai oleh ABC, ada kesan bahwa terdapat tekanan dari pemerintah yang mengarah pada keengganan Kementerian Pertahanan untuk melanjutkan dengan persetujuan ekspor.

Israel, yang dikenal sebagai produsen senjata utama di tingkat global, biasanya tidak mengandalkan impor peralatan militer dari Australia. Namun, selama beberapa dekade, Australia telah menjadi pembeli utama peralatan pertahanan dari Israel.

Dalam tanggapan terhadap isu tersebut, Kementerian Pertahanan Australia angkat bicara, menegaskan bahwa Australia mengoperasikan sistem pengawasan ekspor yang sangat ketat untuk industri pertahanan dan senjata.

Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan menekankan bahwa pemerintah telah menjelaskan bahwa tidak ada pasokan senjata ke Israel yang terjadi sejak awal konflik, dan ini telah berlaku untuk periode minimal lima tahun terakhir.

Australia, menurut juru bicara tersebut, menerapkan kerangka pengendalian ekspor yang ketat, yang dirancang untuk mengatur penjualan peralatan militer secara cermat.

Kapal Perang Rusia Latihan Anti-Kapal Selam di Lokasi Rahasia LCS

journalofserviceclimatology.org – Unit angkatan laut dari Armada Pasifik Federasi Rusia telah melakukan serangkaian latihan militer di perairan Laut China Selatan baru-baru ini. Selama latihan ini, kapal perang Marshal Shaposhnikov, dengan dukungan udara dari helikopter Ka-27, menjalankan simulasi untuk mendeteksi “kapal selam lawan” di lokasi yang tidak diungkapkan di Laut China Selatan. Latihan ini mencakup pelaksanaan manuver untuk meluncurkan torpedo dan menurunkan bom yang dirancang untuk memerangi kapal selam.

Menurut pernyataan dari Kementerian Pertahanan Rusia yang dirilis melalui Radio Free Asia (RFA), kegiatan tembakan yang dilakukan adalah bagian dari skenario latihan, dan tidak melibatkan penggunaan amunisi tajam dari kapal fregat tersebut.

Fregat Marshal Shaposhnikov, bersama dengan kapal penjelajah misil Varyag, terlibat dalam operasi pelatihan yang bertujuan untuk menjangkau wilayah Asia-Pasifik sebagai bagian dari misi jangka panjang mereka.

Sejak tanggal 22 Januari, armada kapal dari Pasifik Rusia telah berangkat dari basis mereka di Vladivostok. Mereka tidak hanya melakukan latihan tetapi juga merencanakan sejumlah kunjungan ke berbagai pelabuhan, meskipun Kementerian Pertahanan Rusia belum memberikan rincian tentang lamanya kunjungan atau negara-negara mana saja yang akan disinggahi.

Armada Pasifik, yang merupakan bagian dari Distrik Militer Timur Rusia, memiliki Samudra Pasifik sebagai wilayah operasional utama mereka. Latihan ini merupakan bagian dari rutinitas untuk mempertahankan keberadaan Angkatan Laut Rusia di kawasan tersebut dan juga sebagai langkah Rusia untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara di Asia Timur dan Tenggara, terutama di tengah isolasi yang meningkat karena konflik dengan Ukraina.

Sampai saat ini, tidak ada pernyataan resmi dari negara-negara di sekitar Laut China Selatan mengenai latihan Rusia. Menurut pakar militer regional Collin Koh dari Singapura, latihan tersebut kemungkinan dianggap sebagai bagian dari hak laut internasional yang tidak memerlukan izin khusus.

Latihan serupa juga telah dilakukan oleh angkatan laut lain, termasuk Amerika Serikat, yang melakukan latihan dan operasi untuk memastikan kebebasan navigasi di wilayah tersebut.

Rusia sedang berusaha memperluas pengaruhnya di Asia Pasifik dan mempererat kerja sama dengan China. Kedua negara ini telah melakukan serangkaian latihan gabungan di Laut China Timur dan Laut China Selatan.

Namun, berdasarkan analisis Koh, Rusia mungkin akan berhati-hati untuk tidak secara terbuka mendukung posisi China di wilayah yang diperebutkan di Laut China Selatan.

Pasangan Pelempar 2 Balita Dari Apartemen di Eksekusi China

journalofserviceclimatology.org – Dua individu di China telah dilaporkan menjalani hukuman eksekusi karena perbuatan mereka yang menyebabkan kehilangan nyawa dua anak kecil dengan cara yang tragis.

Zhang Bo bersama pasangannya, Ye Chengchen, dikenai hukuman atas peristiwa menyedihkan di mana seorang anak perempuan berumur dua tahun dan seorang anak laki-laki berumur satu tahun jatuh dari ketinggian di sebuah kompleks apartemen di kota Chongqing.

Menurut keterangan, Zhang yang merupakan ayah dari kedua anak tersebut, telah menjalin hubungan dengan Ye sejak tahun 2019. Awalnya, Ye tidak mengetahui bahwa Zhang telah berkeluarga dan memiliki anak.

Setelah Zhang bercerai dengan istrinya, Chen Meilin, pada bulan Februari 2020, dia dan Ye mulai merencanakan pernikahan mereka.

Dalam proses persidangan, terungkap bahwa Ye tidak ingin memiliki tanggungan anak-anak dari hubungan Zhang sebelumnya, yang dianggapnya sebagai penghalang bagi rencana pernikahan mereka.

Ye diduga mendorong Zhang untuk menghilangkan nyawa kedua anaknya, yang dia lihat sebagai hambatan untuk masa depan bersama mereka.

Insiden memilukan ini terjadi pada bulan November 2020, di mana salah satu anak meninggal dunia di tempat kejadian, sedangkan yang lainnya meninggal setelah dilarikan ke rumah sakit.

Berdasarkan laporan dari AFP, Zhang dan Ye divonis bersalah atas tuduhan merencanakan dan melakukan pembunuhan terhadap kedua anak tersebut dengan cara yang kejam dan disengaja.

Setelah proses pengadilan, kedua terdakwa tersebut dihukum mati pada Desember 2021 dan eksekusi hukuman tersebut dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 31 Januari.

Perbuatan yang dilakukan oleh Zhang dan Ye telah menciptakan gelombang kemarahan dan kecaman di seluruh negeri China. Masyarakat mengekspresikan kemarahan dan kesedihan yang mendalam atas tindakan yang dilakukan terhadap dua anak yang masih sangat muda tersebut.

3 Negara Hengkang Dari Blok ECOWAS, Protes Sanksi Tak Manusiawi

journalofserviceclimatology.org – Mali, Burkina Faso, dan Niger telah mengumumkan pengunduran diri mereka dari kelompok Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (ECOWAS), menanggapi apa yang mereka sebut sebagai sanksi yang “tidak berperikemanusiaan” yang dikenakan oleh blok tersebut sebagai respon terhadap tindakan kudeta. Ketiga negara, yang semuanya saat ini di bawah pemerintahan junta militer, telah menyatakan keprihatinan mereka terhadap tindakan yang diambil oleh ECOWAS, mengklaim bahwa sanksi tersebut tidak sesuai dengan semangat solidaritas dan pan-Afrikanisme yang menjadi dasar pendirian kelompok. Menurut laporan Associated Press yang dirilis pada Selasa (30/1/2024), ketiga negara tersebut mengkritik ECOWAS karena telah menyimpang dari prinsip-prinsip yang dijunjung tinggi oleh para pendiri kelompok tersebut.

Menurut pernyataan yang diberikan oleh ketiga negara tersebut, ECOWAS, yang diduga berada di bawah pengaruh eksternal, telah mengabaikan prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi pembentukannya, berubah menjadi sebuah entitas yang kini dianggap sebagai ancaman oleh anggotanya sendiri, daripada menjadi penjamin kesejahteraan rakyatnya. Di sisi lain, ECOWAS menyampaikan bahwa mereka belum mendapatkan pemberitahuan resmi tentang langkah penarikan diri yang diambil oleh Mali, Burkina Faso, dan Niger. Sesuai dengan protokol yang ada, proses penarikan diri dari blok memerlukan waktu hingga satu tahun untuk tuntas. Dalam pernyataannya, ECOWAS menegaskan bahwa ketiga negara tersebut masih dianggap sebagai bagian penting dari komunitas tersebut, dan mereka tetap terbuka terhadap dialog untuk menyelesaikan ketidaksepakatan politik yang ada. Sebagai entitas pemerintahan dan kerja sama regional utama di Afrika Barat, ECOWAS, yang terdiri dari 15 negara anggota dan didirikan pada tahun 1975 dengan tujuan utama memperkuat integrasi ekonomi antar anggotanya, telah menghadapi tantangan dalam beberapa tahun belakangan ini untuk mengatasi serangkaian kudeta yang terjadi di kawasan yang memiliki kekayaan sumber daya alam.

Oge Onubogu, yang menjabat sebagai direktur program wilayah Afrika di Wilson Center di Washington, mengkritik Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (ECOWAS) dengan menyebut bahwa organisasi tersebut semakin kehilangan pengaruh dan dukungan publik di Afrika Barat. Menurutnya, persepsi umum adalah bahwa ECOWAS lebih mementingkan kepentingan elit politik daripada aspirasi rakyat. Pengumuman yang dibuat oleh Mali, Burkina Faso, dan Niger pada hari Minggu menandai titik balik terbaru dalam serentetan peristiwa yang telah menambah ketegangan politik di kawasan, pasca serangkaian perebutan kekuasaan, termasuk kudeta paling baru di Niger. Ketiga negara tersebut juga telah membuka lembaran baru dalam kebijakan keamanan mereka dengan mengakhiri kerjasama militer dengan Prancis dan negara-negara Eropa lainnya, beralih mencari dukungan dari Rusia. Mereka bersama-sama mengecam ECOWAS karena tidak memberikan dukungan yang efektif dalam menghadapi tantangan seperti terorisme, yang sering dijadikan alasan oleh militer untuk menggulingkan pemerintahan terpilih. Ketiga negara itu menegaskan bahwa tindakan ECOWAS yang mengenakan sanksi dianggap oleh mereka sebagai tindakan yang irasional, tidak sah, dan melanggar prinsip kemanusiaan serta peraturan internal ECOWAS sendiri.

 

Inilah 7 Negara Timur Tengah Yang Menjadi Lokasi Pengkalan Militer AS

journalofserviceclimatology.org – Timur Tengah secara konsisten menjadi titik fokus dalam geopolitik global karena kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman sejarah serta budaya yang dimilikinya. Salah satu elemen penting dalam hubungan antara Amerika Serikat (AS) dengan negara-negara di Timur Tengah adalah penempatan pangkalan militer AS di wilayah tersebut. Penempatan pangkalan militer AS di berbagai negara Timur Tengah sering kali menimbulkan polemik. Berikut ini adalah beberapa negara di wilayah tersebut yang menjadi lokasi bagi kekuatan militer AS.

1. Irak

Pasca invasi pada tahun 2003, Irak telah menjadi tuan rumah bagi sejumlah besar pangkalan militer AS di Timur Tengah. Fasilitas-fasilitas seperti Camp Victory dan Pangkalan Udara Al Asad telah menjabat sebagai titik penting bagi operasi militer AS di kawasan itu. Walaupun telah terjadi pengurangan pasukan AS di Irak, sejumlah pangkalan masih aktif beroperasi. Pengaruhnya terhadap infrastruktur dan ekonomi lokal dapat dilihat, meskipun adanya kekacauan dan demonstrasi yang menentang keberadaan pasukan asing. Dukungan AS dalam pemberantasan kelompok teroris ISIS mendapatkan pengakuan, namun hal ini juga memicu dinamika tegang di dalam negeri.

2. Qatar

Qatar menyediakan tempat untuk Al Udeid Air Base, yang merupakan basis militer AS terbesar di Timur Tengah. Fasilitas ini memainkan peran kunci dalam berbagai operasi militer AS, termasuk misi udara yang dilakukan di Afghanistan, Irak, dan Suriah. Sementara kehadiran pangkalan ini menguatkan ikatan antara AS dan Qatar, keberadaannya juga membangkitkan keprihatinan di kalangan negara-negara sekitar. Meskipun infrastruktur dan perekonomian Qatar menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, terdapat kecemasan mengenai dampak dari kehadiran politik dan militer asing di negara tersebut.

3. Uni Emirat Arab

Di Uni Emirat Arab (UEA), terdapat fasilitas militer AS yang terletak di Abu Dhabi dan Dubai. Kehadiran pasukan AS di UEA terutama bertujuan untuk mendukung upaya melawan terorisme dan menjaga kestabilan di kawasan. Sambungan ekonomi dan politik antara AS dan UEA telah mengalami peningkatan sebagai hasil dari kerjasama ini, namun keberadaan pasukan militer AS di sana juga mendapat sorotan dan kritik dari komunitas internasional. UEA mendapatkan manfaat dari akses ke teknologi pertahanan yang maju serta dukungan keamanan sebagai bagian dari hubungan ini.

4. Saudi Arabia

Presensi fasilitas militer Amerika Serikat di Arab Saudi telah menarik perhatian dan perdebatan, terutama sejak insiden 11 September 2001. Fasilitas seperti Pangkalan Udara Prince Sultan memegang peranan strategis dalam operasi militer di wilayah tersebut. Dinamika hubungan antara AS dan Saudi menjadi rumit akibat adanya kekhawatiran mengenai hak asasi manusia dan ketegangan geopolitik. Meskipun kehadiran militer AS di Saudi Arabia memberikan lapisan tambahan keamanan bagi kerajaan, hal ini juga memicu keberatan dan demonstrasi dari penduduk lokal.

5. Turki

Instalasi militer Amerika Serikat di Turki menandai jejak historis yang penting, namun hubungan bilateral antara kedua negara telah menghadapi tantangan baru-baru ini. Di antara berbagai pangkalan AS di Turki, yang paling menonjol adalah Incirlik Air Base. Terletak di Adana, pangkalan ini telah menjadi titik kunci selama era Perang Dingin dan tetap menjadi salah satu pusat militer AS yang paling signifikan di luar negeri. Incirlik Air Base dilengkapi dengan fasilitas yang dapat menunjang berbagai operasi pesawat militer, termasuk jet tempur dan pesawat tanker untuk pengisian bahan bakar di udara.

Pangkalan Incirlik Air Base memainkan peran vital dalam berbagai operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk usaha militer melawan ISIS di Irak dan Suriah. Selanjutnya, İzmir Air Station, yang terletak di Provinsi İzmir, memiliki peran bersejarah dalam mendukung misi militer Amerika Serikat dan NATO. Meski tidak sebesar Incirlik, İzmir Air Station tetap krusial dalam operasi udara dan laut. Di sisi lain, Diyarbakir Air Base yang berada di bagian tenggara Turki, juga mengambil bagian strategis dalam mendukung kegiatan militer. Pangkalan ini terutama digunakan untuk misi udara dan sebagai pusat logistik.

6. Suriah

Pangkalan Al-Tanf menjadi titik operasional penting bagi pasukan Amerika Serikat di Suriah. Terletak di persimpangan perbatasan antara Suriah, Yordania, dan Irak, Al-Tanf menduduki posisi yang mengendalikan jalur vital antara Suriah, Irak, dan Yordania. Fungsi utama pangkalan ini adalah sebagai pusat pelatihan dan pendukung bagi kelompok-kelompok oposisi Suriah yang bertempur melawan ISIS dan entitas lain. Kehadiran AS di Al-Tanf telah menciptakan gesekan dengan pemerintah Suriah serta sekutu-sekutunya, termasuk Rusia dan Iran, yang menyatakan bahwa ini merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah. Di tengah konflik Suriah, pasukan AS juga turut serta dalam misi gabungan dengan kelompok Kurdi, yaitu Pasukan Demokratik Suriah (SDF), dalam usaha penghapusan ISIS. Berbagai lokasi militer lainnya kemungkinan berperan sebagai pusat bantuan logistik dan strategis bagi kekuatan tersebut.

7. Bahrain

Basis operasi utama Amerika Serikat di Bahrain adalah Fasilitas Dukungan Angkatan Laut Kelima AS, yang dikenal sebagai Naval Support Activity Bahrain (NSA Bahrain). Pangkalan ini terletak di Manama, ibu kota Bahrain, dan berada di posisi yang menguntungkan dengan akses langsung ke Laut Arab dan Teluk Persia, memainkan peran kunci dalam mengamankan perairan dan memantau stabilitas keamanan regional. NSA Bahrain bertindak sebagai pusat komando untuk mendukung kegiatan logistik dan pengelolaan bagi armada kapal perang Amerika Serikat yang bertugas di wilayah Teluk Persia dan sekitarnya. Kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah memiliki dampak yang luas dan sering kali menjadi sumber debat. Keberadaannya berkontribusi pada keamanan regional bagi sejumlah negara, namun sering kali menyebabkan tekanan politik dan sosial di dalam negeri. Memahami kerumitan hubungan antara Amerika Serikat dengan negara-negara di Timur Tengah adalah kunci untuk menggambarkan efek jangka panjang kehadiran mereka.

Negara Palestina Dipertimbangkan Akan di Akui Inggris

journalofserviceclimatology.org – Pada sebuah pertemuan yang diadakan oleh Dewan Konservatif Timur Tengah di House of Commons pada malam hari tanggal 29 Januari 2024, David Cameron, Menteri Luar Negeri Inggris, mengutarakan bahwa Inggris sedang mempertimbangkan pengakuan terhadap negara Palestina. Pengakuan ini diharapkan dapat membuka peluang politik baru bagi masyarakat Palestina. Cameron menekankan bahwa Inggris memiliki peran penting dalam membentuk visi masa depan negara Palestina, termasuk struktur dan mekanisme pemerintahannya. “Ini bisa menjadi faktor yang berkontribusi terhadap kemantapan proses menuju solusi dua negara,” ujarnya, sebagaimana dilaporkan oleh BBC. Cameron menambahkan bahwa langkah ini dapat memperkuat proses perdamaian yang sedang berlangsung.

Gencatan Senjata Berkelanjutan

David Cameron, berbicara di Dewan Konservatif Timur Tengah di House of Commons, menyampaikan optimisme mengenai negosiasi yang sedang berlangsung untuk mencapai gencatan senjata. Dia menandaskan tantangan sebenarnya bukan hanya dalam mencapai hentian konflik sementara, tetapi mengubahnya menjadi gencatan senjata yang berkelanjutan. “Inilah saat yang kritis untuk menghadirkan solusi politik jangka panjang,” ujarnya. Meskipun ada kesulitan historis dan kegagalan di masa lalu, dia menekankan pentingnya untuk terus berupaya, sebagaimana dilaporkan oleh The Independent.

Pernyataan Cameron tersebut dianggap penting oleh Husam Zomlot, Duta Besar Palestina untuk Inggris. Namun, beberapa anggota senior Partai Konservatif menyarankan agar berhati-hati. Menurut The Independent, Tory senior Michael Ellis dilaporkan menyampaikan kekhawatiran, mengatakan bahwa langkah seperti itu bisa tanpa sengaja memberikan kemampuan dan atribut kenegaraan kepada aktor yang berpotensi berbahaya.

Sementara para pemimpin Barat terus mendukung solusi dua negara sebagai satu-satunya jalur layak jangka panjang menuju perdamaian, pandangan ini tidak sepenuhnya dibagi oleh para pemimpin Israel, yang sering kali menyatakan penentangan terhadap skema tersebut.

Dalam sebuah penyampaian yang ditayangkan di televisi pada tanggal 18 Januari, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan kembali posisi keras Israel mengenai keamanan wilayahnya. Netanyahu menyatakan dengan tegas bahwa Israel harus memegang kendali penuh atas aspek keamanan di semua daerah yang terletak di sisi barat Sungai Yordan. Dalam konferensi pers yang disiarkan tersebut, dia mengungkapkan bahwa dia telah menyampaikan posisi ini secara jelas kepada para sekutu Amerika. Netanyahu menyimpulkan bahwa mempertahankan kontrol keamanan adalah syarat mutlak dan ini berada di luar konsep kedaulatan yang diusulkan untuk Palestina.

Apakah Gencatan Senjata Gagal? Israel Penuhi Terowongan Hamas di Gaza

journalofserviceclimatology.org – Pasukan pertahanan Israel telah mengumumkan bahwa mereka telah mengambil langkah untuk merendam terowongan serangan yang digunakan oleh Hamas dengan air. Tindakan ini terjadi dalam konteks pertempuran yang terus berlanjut di Gaza dan saat upaya-upaya mencapai kesepakatan gencatan senjata yang berkelanjutan sedang berlangsung.

Menurut pernyataan resmi yang diberikan kepada AFP pada Rabu, 31 Januari 2024, militer Israel mengungkapkan bahwa mereka telah menerapkan strategi membanjiri dengan air ke dalam jaringan terowongan bawah tanah yang ekstensif, yang mereka sebut sebagai “metro Gaza”.

Strategi ini dijelaskan oleh militer sebagai salah satu dari berbagai metode yang mereka gunakan untuk menanggulangi ancaman yang ditimbulkan oleh jaringan terowongan ini, yang merupakan bagian dari infrastruktur militer Hamas.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh akademi militer Amerika Serikat, West Point, di awal konflik Israel-Hamas pada Oktober tahun sebelumnya, diperkirakan ada sekitar 1.300 terowongan dengan total panjang mencapai 500 kilometer di bawah Gaza. IDF (Israel Defense Forces) telah berkomitmen untuk menghancurkan jaringan terowongan ini sebagai respons terhadap serangan oleh Hamas.

Pihak militer Israel menyatakan bahwa sejumlah sandera yang diculik oleh Hamas diyakini ditahan dalam labirin terowongan yang ekstensif ini. Pada bulan Desember, laporan dari media Israel menunjukkan bahwa ada kecenderungan untuk membanjiri terowongan-terowongan tersebut dengan air laut yang dipompa dari Laut Mediterania.

Akan tetapi, para pakar telah memberikan peringatan mengenai risiko yang ditimbulkan oleh strategi ini, menekankan bahaya potensial bagi penduduk sipil di Gaza yang sudah terkepung. Lynn Hastings, koordinator kemanusiaan PBB untuk wilayah Palestina, pada bulan Desember menyoroti bahwa tindakan ini dapat berdampak buruk pada infrastruktur air dan limbah di Gaza yang sudah dalam kondisi rapuh, serta berpotensi menyebabkan keruntuhan bangunan dan jalan akibat peningkatan tekanan serta infiltrasi air laut.

Meskipun demikian, IDF menegaskan bahwa mereka telah mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari kerusakan pada air tanah di area tersebut. Menurut pernyataan mereka, pemompaan air dilakukan secara selektif, hanya pada bagian-bagian tertentu dari terowongan dan di lokasi yang dianggap tepat, dengan mempertimbangkan cara operasi yang paling aman untuk masing-masing situasi.

IDF menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari serangkaian kapasitas yang telah dikembangkan oleh mereka dan lembaga keamanan Israel dalam beberapa tahun terakhir untuk bertindak melawan infrastruktur bawah tanah Hamas di Jalur Gaza.

Jaringan terowongan ini semula dikembangkan sebagai cara untuk mengatasi blokade yang diterapkan oleh Israel atas Gaza setelah Hamas mengambil alih kekuasaan di tahun 2007, yang memfasilitasi penyelundupan orang, barang, dan senjata masuk dan keluar dari Mesir.

Gencatan Senjata

Sebuah pertemuan yang diadakan di Paris pada tanggal 29 Januari, melibatkan pejabat tingkat tinggi dari Amerika Serikat, Israel, Mesir, dan Qatar, berhasil merumuskan kerangka kerja untuk gencatan senjata baru. Keesokan harinya, Hamas melalui saluran komunikasi mereka di Telegram menyampaikan bahwa mereka telah menerima proposal tersebut dan sedang meninjau untuk memberikan respons.

Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, yang pemerintahannya berperan sebagai mediator dalam gencatan senjata sebelumnya pada bulan November, menyampaikan optimisme bahwa langkah awal ini bisa berujung pada gencatan senjata yang berkelanjutan. Menurut Sheikh Mohammed, strategi yang dipertimbangkan meliputi penerapan gencatan senjata secara bertahap, dengan prioritas pembebasan sandera wanita dan anak-anak terlebih dulu, serta peningkatan bantuan ke wilayah Gaza.

Pihak Amerika Serikat, diwakili oleh Menteri Luar Negeri Antony Blinken, juga menunjukkan sikap positif terhadap pencapaian kesepakatan, dengan menekankan bahwa proses yang dijalani telah menghasilkan kemajuan yang signifikan dan produktif.

Namun, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan kembali posisinya pada tanggal 30 Januari, dengan menolak gagasan pembebasan “ribuan” tahanan Palestina sebagai bagian dari kesepakatan untuk menghentikan pertempuran di Gaza. “Saya ingin membuatnya jelas… Kami tidak akan menarik IDF dari Jalur Gaza, dan kami tidak akan melepaskan ribuan teroris. Semua ini tidak akan terjadi,” ungkapnya dengan tegas.

Ingin Gencatan Senjata Islael Ke Hamas, Begini Syarat Dari Netanhayu

journalofserviceclimatology.org – Benjamin Netanyahu telah menyampaikan bahwa dia tidak akan menyetujui kesepakatan gencatan senjata yang meminta pembebasan ribuan tawanan Palestina atau penarikan pasukan Israel dari Gaza. Pernyataan ini muncul seiring dengan keterbukaan Ismael Haniyeh, pemimpin Hamas, untuk membahas usulan perdamaian di Kairo, Mesir. Haniyeh menegaskan bahwa Hamas bertekad untuk menghentikan agresi militer Israel di Gaza dan mengamankan pengunduran diri penuh pasukan Israel dari daerah tersebut.

Meskipun ada pengakuan bahwa tuntutan tersebut mungkin sulit bagi Israel untuk diterima, Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat tetap optimis dan berusaha untuk mengeksplorasi kemungkinan agar kedua pihak dapat dipersuasi untuk menerima gencatan senjata jangka pendek. Gencatan senjata ini diharapkan bisa berlangsung setidaknya selama satu bulan, memberikan jendela peluang bagi pembebasan hampir semua sandera.

Kerangka kerja proposal yang telah dibahas antara Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Israel pada tanggal 28 Januari 2024 di Paris menghadirkan sebuah rancangan kesepakatan. Diskusi ini diadakan tanpa kehadiran perwakilan Hamas karena lokasi pertemuan.

Benjamin Netanyahu, dengan tegas, telah menolak kemungkinan perjanjian yang membutuhkan penarikan pasukan Israel dari Gaza tanpa tercapainya sebuah kemenangan militer yang definitif. Dia menyatakan bahwa konflik di Gaza bukan lagi sekadar pertempuran melawan Hamas dan bahwa ia tidak akan mengakhiri operasi militer sebelum tujuan Israel terpenuhi.

Mengenai isu pembebasan sandera, perdana menteri Israel tersebut menegaskan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) akan tetap berada di Gaza dan menolak gagasan pembebasan ribuan orang yang disebutnya “teroris”.

Laporan yang bocor mengindikasikan bahwa fase pertama dari gencatan senjata yang diusulkan akan melibatkan pembebasan sekitar 35 sandera sebagai bagian dari gencatan senjata selama enam minggu. Kelompok sandera yang dimaksud meliputi perempuan sipil, pria lanjut usia, serta sandera yang sakit atau terluka. Sebagai gantinya, Israel akan membebaskan beberapa warga Palestina yang ditahan.

Fase kedua dari kesepakatan ini akan berfokus pada pembebasan tentara laki-laki dan perempuan, sementara fase ketiga akan khusus menangani masalah pemulangan jenazah.

Netanyahu, yang menghadapi perpecahan di dalam kabinetnya, menyadari bahwa proposal ini bisa berisiko bagi kelangsungan pemerintahannya. “Kami tidak akan menyetujui apapun selain dari kemenangan total,” katanya, seperti dikutip oleh The Guardian pada tanggal 31 Januari 2024.

Dia menambahkan bahwa Israel bertekad untuk mencapai semua tujuan strategisnya, termasuk penghancuran Hamas, pemulangan semua sandera, dan memastikan Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel. Sampai semua ini tercapai, tidak satu pun tahanan Palestina akan dibebaskan dari penjara Israel.

Tanggapan Hamas

Sami Abu Zuhri, seorang pejabat senior dari Hamas, mengecam pernyataan Netanyahu sebagai bukti ketidakpedulian perdana menteri terhadap kesuksesan pembicaraan yang terjadi di Paris serta terhadap nasib para tahanan Israel.

Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel, telah memberikan peringatan bahwa kesepakatan yang tidak mempertimbangkan keamanan dengan cermat dapat mengakibatkan pembubaran koalisi yang berkuasa.

Dalam kontras dengan posisi Israel, Haniyeh dari Hamas menegaskan bahwa respon kelompoknya terhadap usulan tersebut akan ditentukan oleh kebutuhan untuk menghentikan agresi Israel terhadap Gaza dan penarikan pasukan Israel dari wilayah tersebut. “Kami terbuka untuk membahas setiap inisiatif atau usulan yang serius dan dapat diimplementasikan, yang menuju kepada penghentian agresi secara menyeluruh, menjamin proses penyediaan tempat tinggal dan rekonstruksi, pencabutan blokade, dan menyelesaikan proses pertukaran tahanan yang kredibel,” kata Haniyeh.

Detail tentang proporsi tahanan yang akan dibebaskan sesuai dengan kategori sandera yang berbeda belum sepenuhnya diselesaikan dalam negosiasi.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menyatakan pada malam Senin bahwa “tindakan penting dan produktif telah diambil, dan ada harapan nyata untuk masa depan.” Dia juga menekankan bahwa Hamas harus membuat keputusan mereka sendiri, namun menambahkan bahwa ada dukungan kuat dan persesuaian di antara negara-negara yang terlibat mengenai proposal yang disodorkan.

David Cameron, Menteri Luar Negeri Inggris, memberikan perspektif bahwa segala kesepakatan harus mencakup penggantian kepemimpinan militer Hamas di Gaza.

AS-Iran di Ambang Perang, Hamas-Israel Negosiasi Terancam Berantakan

journalofserviceclimatology.org – Serangan yang ditargetkan pada fasilitas militer Amerika Serikat, yang dikenal sebagai Tower 22 di Yordania, telah menimbulkan dampak yang signifikan. Setelah Amerika Serikat mengarahkan tuduhan terhadap Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut, proses negosiasi antara Israel dan Hamas kini menghadapi risiko keruntuhan.

Menurut laporan dari Reuters, Amerika Serikat telah menyatakan komitmennya untuk mengambil “langkah-langkah yang diperlukan” dalam melindungi pasukannya. Ini merupakan respons atas serangan drone yang telah menyebabkan kematian tiga tentara Amerika di Yordania. Di pihak lain, Qatar mengungkapkan kekhawatiran mereka bahwa aksi balasan dari Amerika Serikat dapat berdampak negatif pada keamanan kawasan dan menghambat perkembangan negosiasi terkait pembebasan sandera di Gaza.

Serangan yang terjadi pada hari Minggu (28 Januari 2024) tersebut, yang diduga dilakukan oleh militan pro-Iran, merupakan insiden serangan mematikan pertama terhadap pasukan Amerika Serikat sejak konflik antara Israel dan Hamas meningkat pada bulan Oktober. Serangan ini juga menandai peningkatan signifikan dalam ketegangan yang telah melanda kawasan Timur Tengah.

Juru bicara Pentagon, John Kirby, menyatakan pada hari Senin bahwa Amerika Serikat tidak memiliki keinginan untuk terlibat dalam konflik yang lebih luas dengan Iran atau di wilayah itu secara keseluruhan. “Kita harus melakukan apa yang perlu dilakukan,” ujarnya, menegaskan bahwa tindakan akan diambil sesuai kebutuhan.

Iran, di sisi lain, telah menolak klaim bahwa mereka terlibat dalam serangan tersebut. Presiden Biden sebelumnya telah memerintahkan tindakan balasan terhadap grup-grup yang didukung oleh Iran, meski sampai saat ini belum ada langkah yang diambil terhadap Iran secara langsung.

Presiden Biden menegaskan, “Tanpa ragu-ragu, kami akan menuntut pertanggungjawaban pada waktu dan dengan cara yang kami pilih,” menunjukkan pendekatan yang diukur namun tegas.

Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin, juga menegaskan sikap yang serupa, menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan AS tidak akan ditoleransi dan bahwa semua tindakan yang diperlukan akan diambil untuk melindungi kepentingan dan pasukan AS.

Di tengah situasi ini, pemerintahan Biden menghadapi tekanan untuk menanggapi serangan drone tersebut secara tegas tanpa memicu eskalasi yang dapat berujung pada konflik yang lebih luas.

Dalam upaya untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah, pemerintahan Presiden Biden juga bertindak sebagai mediator dalam proses pembebasan lebih dari 100 sandera yang ditahan oleh Hamas, setelah serangan mereka terhadap Israel pada 7 Oktober.

Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al Thani, telah menyuarakan harapannya bahwa tindakan balasan yang mungkin diambil oleh Amerika Serikat tidak akan merusak kemajuan yang telah dibuat menuju sebuah kesepakatan pembebasan sandera baru. Kesepakatan ini telah menjadi topik diskusi dalam perundingan yang berlangsung pada akhir pekan lalu.

Dia menyatakan kekhawatiran bahwa tindakan balasan dari AS dapat berpengaruh buruk terhadap kestabilan regional dan berharap konsekuensi tersebut dapat dihindari.

William Burns, Direktur CIA, melakukan pertemuan dengan Sheikh Mohammed, serta dengan kepala Mossad dari Israel dan kepala intelijen Mesir di Paris. Pertemuan tersebut dianggap konstruktif oleh pihak-pihak Israel, Qatar, dan Amerika Serikat, meskipun masih ada perbedaan yang cukup besar yang perlu diatasi.

Menurut Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, perundingan yang berlangsung di Paris memberikan optimisme bahwa proses negosiasi yang dipimpin oleh Qatar dapat dilanjutkan. Sebelumnya, mekanisme ini telah berhasil mencapai gencatan senjata selama satu minggu pada bulan November, di mana Hamas melepaskan sekitar 100 sandera.

Blinken menyebut bahwa kerangka kerja untuk potensi kesepakatan baru yang dikembangkan di Paris adalah “kerangka yang solid dan menjanjikan,” yang memberikan harapan akan kemungkinan kembali ke proses perundingan tersebut. Dia menekankan bahwa Hamas harus membuat keputusan independen mereka sendiri, namun menahan diri dari memberikan detail lebih lanjut tentang proposal yang dibahas.

Junta Militer Myanmar Terancam Bubar dan Dihukum China

journalofserviceclimatology.org – Tiga tahun setelah mengambil alih kekuatan di Myanmar, rezim militer yang dipimpin oleh Min Aung Hlaing terus menghadapi tantangan dalam mempertahankan kontrol atas negara tersebut. Dalam beberapa bulan terakhir, mereka menghadapi beberapa kerugian yang signifikan, yang memicu peningkatan kritik terhadap kepemimpinan junta.

Pasukan junta telah kehilangan wilayah strategis yang terletak di bagian utara negara itu, yang berbatasan dengan China, dan juga di wilayah barat yang berdekatan dengan India. Sementara itu, di berbagai area lain, pasukan militer terlibat dalam konflik yang intens dengan kelompok-kelompok yang menentang kudeta militer dan berupaya untuk melawan dengan tekad yang kuat.

Kendati ada perjuangan tersebut, menurut PBB, sekitar dua pertiga dari wilayah Myanmar masih terpengaruh oleh kekerasan dan konflik yang berkelanjutan.

Di ruang maya, ada suara-suara dari pendukung militer yang mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintahan Min Aung Hlaing.

Baru-baru ini, seorang biksu yang dikenal karena pandangan ultranasionalisnya, Pauk Sayardaw, memanggil untuk pengunduran diri Min Aung Hlaing. Seruan ini disampaikan selama demonstrasi di Pyin Oo Lwin, sebuah kota yang terkenal dengan keberadaan militer yang kuat dan lokasi dari Akademi Layanan Pertahanan tingkat atas.

Perlawanan Terhadap Junta

Sejak kudeta pada tahun 2021 yang mengakhiri pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi, Myanmar telah terperosok ke dalam konflik berlarut. Kudeta ini menimbulkan kemarahan publik dan memicu gelombang demonstrasi besar yang menuntut pemulihan demokrasi.

Dengan eskalasi kekerasan oleh junta yang membuat protes damai menjadi berbahaya, warga negara memilih untuk mengambil senjata dalam upaya mereka melawan penindasan, sering kali dengan menggunakan senjata buatan sendiri.

Sejumlah kelompok telah muncul untuk berjuang melawan junta, termasuk organisasi pro-demokrasi yang terbentuk setelah kudeta, dikenal sebagai Kekuatan Pertahanan Rakyat (PDF). Banyak dari kelompok-kelompok ini bersatu di bawah Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), yang didirikan sebagai lawan pemerintahan militer.

Di samping itu, kelompok-kelompok etnis bersenjata yang telah lama berjuang melawan pemerintah Myanmar untuk tujuan kemerdekaan mereka juga telah bergabung dalam perlawanan terhadap junta. Meski tujuan mereka bisa beragam dan tingkat koordinasi antar kelompok berbeda, mereka bersatu dalam penentangan mereka terhadap pemerintahan militer.

Konflik di Myanmar telah mengalami kebuntuan yang berkepanjangan. Namun, ada perubahan dinamika yang signifikan pada tanggal 27 Oktober, ketika beberapa kelompok etnis bersenjata yang berpengalaman, berkumpul dalam apa yang disebut sebagai Aliansi Persaudaraan. Mereka meluncurkan serangan yang terkoordinasi dengan kelompok anti-kudeta yang lebih baru dengan tujuan untuk menguasai wilayah yang dikuasai junta di bagian utara negara.

Keberhasilan yang diraih oleh Aliansi Persaudaraan dengan cepat memicu operasi militer serupa di wilayah-wilayah lain di Myanmar, yang memberikan dorongan semangat signifikan kepada gerakan yang mendukung demokrasi. Meskipun ada kemajuan yang beragam, dengan beberapa wilayah, terutama di bagian selatan, mengalami kemajuan yang lebih lambat, harapan akan efek domino yang melumpuhkan kemampuan militer junta telah meredup.

Pengamat dan analis konflik menyarankan bahwa walaupun kelompok-kelompok dalam Aliansi Persaudaraan tergabung dalam usaha yang lebih besar untuk mendukung demokrasi, mereka juga memiliki kepentingan teritorial yang spesifik.

Yun Sun, yang merupakan rekan senior dan direktur Program Asia Timur di Stimson Center, berpendapat bahwa China secara tidak resmi telah memberikan dukungan terhadap aksi militer yang dilakukan oleh Aliansi Persaudaraan.

Menurut Sun dalam sebuah wawancara yang dirilis oleh The Guardian, tujuan dari sikap China tersebut adalah untuk memberikan sanksi kepada pemerintah junta di Myanmar. Meskipun demikian, China juga telah menyampaikan pesan kepada kelompok-kelompok tersebut bahwa mereka menghendaki situasi stabil kembali di wilayah tersebut.

Salah satu alasan utama frustrasi China terhadap junta militer Myanmar adalah kegagalan mereka dalam menangani praktik penipuan yang berkembang dan banyak menargetkan warga negara China.

Ternyata Ini Alasan Palestina Tidak Punya Tentara

journalofserviceclimatology.org – Dikenal memiliki hubungan yang tegang, Israel dan Palestina seringkali disebut berada dalam ketidakseimbangan kekuatan. Palestina, yang belum diakui sebagai negara penuh oleh sebagian besar komunitas internasional, tidak memiliki angkatan bersenjata yang terstruktur seperti kebanyakan negara lain. Ketiadaan tentara reguler ini memberikan dampak signifikan terhadap kemampuan Palestina dalam membela diri dalam konflik.

Menurut sumber dari TRT World, Israel memiliki kekuatan militer yang lengkap dan canggih, termasuk pasukan bersenjata dan peralatan militer yang dikembangkan oleh industri pertahanan domestiknya. Industri militer Israel tidak hanya memenuhi kebutuhan pertahanan dalam negeri, tapi juga mengekspor senjata ke berbagai negara besar, termasuk Rusia, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa.

Di sisi lain, seperti yang dilaporkan oleh Welcome To Palestine pada tahun 2017, Palestina memiliki apa yang dikenal sebagai Pasukan Keamanan Nasional Palestina. Pasukan ini beroperasi di bawah Otoritas Nasional Palestina (PNA) dan memiliki sifat paramiliter. Pasukan ini mencakup beberapa unit keamanan tapi tidak termasuk pengawal presiden, pasukan keamanan dalam negeri, atau intelijen umum, yang semuanya memiliki peran dan tanggung jawab tersendiri dalam struktur keamanan Palestina.

Pasukan keamanan yang beroperasi di wilayah yang diakui oleh Otoritas Nasional Palestina (PNA) telah ada sejak Persetujuan Oslo ditandatangani. Sejak tahun 2004, struktur keamanan di bawah Layanan Keamanan Palestina telah diberi tanggung jawab dalam penegakan hukum umum.

Otoritas Nasional Palestina dan Israel memiliki serangkaian perjanjian bilateral yang menetapkan batasan tertentu pada ukuran, persenjataan, dan struktur pasukan keamanan Palestina. Perjanjian ini memberikan hak kepada Israel untuk meninjau dan memberikan persetujuan terhadap rekrutmen anggota pasukan tersebut. Pada tahun 2007, dikutip dari sumber tanggal 30 April 2022, tercatat ada sekitar 42 ribu personel yang tergabung dalam pasukan keamanan PNA.

Di sisi lain, Hamas, yang merupakan gerakan politik dan militer Palestina, memiliki sayap militer sendiri yang dikenal sebagai Brigade Izz ad-Din al-Qassam. Brigade ini didirikan pada awal tahun 1990-an dengan tujuan utama untuk melawan kekuatan militer Israel. Baik Hamas maupun Brigade Izz ad-Din al-Qassam telah dimasukkan dalam daftar organisasi teroris oleh beberapa negara di dunia.

Brigade Izz ad-Din al-Qassam beroperasi sebagai bagian integral dari Hamas dan berkomitmen pada tujuan gerakan tersebut, tetapi juga memiliki otonomi dan kepemimpinan sendiri.

Israel Targetkan UNRWA Badan PBB Yang Akan Urus Pengungsi Palestina

journalofserviceclimatology.org – Badan PBB yang bertanggung jawab atas pengungsi Palestina, UNRWA, menjadi fokus perhatian menyusul tuduhan dari Israel bahwa badan tersebut terlibat dalam serangan yang terjadi pada tanggal 7 Oktober. Sebagai reaksi terhadap tuduhan tersebut, Amerika Serikat, yang merupakan salah satu sekutu terdekat Israel, menghentikan kontribusi dana mereka kepada UNRWA. Keputusan serupa juga diambil oleh negara-negara lain seperti Inggris, Australia, dan Jepang.

Pemberhentian bantuan ini telah menambah kompleksitas kondisi yang sudah kritis di Palestina, dimana konflik dan agresi masih berlangsung.

Mengapa Israel menargetkan UNRWA menjadi pertanyaan yang relevan dalam konteks ini. Michael Bueckert, seorang jurnalis dan aktivis yang mendukung Palestina dari Kanada, percaya bahwa tindakan Israel saat ini tidak dapat dipisahkan dari peristiwa terkini di Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ).

Setelah Afrika Selatan menuduh Israel melakukan genosida di Jalur Gaza dan membawa kasus tersebut ke ICJ pada bulan Desember yang lalu, mahkamah ini kini sedang memproses pengadilan tersebut.

Pada sidang terakhir yang dilakukan pada hari Jumat, ICJ telah mengambil keputusan untuk mengimplementasikan tindakan darurat dengan mengeluarkan sebuah perintah kepada Israel agar menghentikan aksinya dengan segera. Keputusan ini bukan merupakan penyelesaian akhir dari ICJ, melainkan tindakan interim yang diambil oleh pengadilan tertinggi PBB ini selagi mereka melanjutkan penyelidikan dan proses pengadilan lebih jauh.

Setelah keputusan sementara oleh Mahkamah Internasional (ICJ), Israel merilis sebuah laporan yang menuduh anggota staf UNRWA terlibat dalam memberikan bantuan kepada milisi Hamas untuk melaksanakan serangan terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober. Akibat serangan yang diatributkan kepada Hamas tersebut, Israel melancarkan aksi militer terhadap Gaza yang telah menyebabkan kematian lebih dari 26.500 orang Palestina.

“Terlihat jelas bahwa ini merupakan reaksi balasan yang terkoordinasi dari Israel terhadap Palestina dan PBB sebagai tanggapan atas keputusan ICJ,” komentar jurnalis dan aktivis pro-Palestina, Michael Bueckert.

Pada hari yang sama ketika ICJ mengakui hak perlindungan warga Palestina dari genosida, negara-negara Barat, menurut Bueckert, tampaknya berkolaborasi dengan mengambil tindakan yang merugikan korban dengan cara memutus sumber kehidupannya. “Kemunafikan ini semakin terlihat,” tambahnya.

Baru-baru ini, ICJ memerintahkan pemerintah Israel untuk menghentikan tindakan genosida di Palestina dan meminta agar mereka menghukum siapa saja yang terlibat atau memprovokasi perbuatan tersebut.

Dalam pandangan Israel, UNRWA dianggap sebagai penghalang terhadap tujuan-tujuan mereka di wilayah tersebut. Beberapa pejabat Israel bahkan secara eksplisit menyuarakan keinginan untuk melumpuhkan agensi ini.

Mengikuti penghentian dana dari negara-negara Barat, Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, menyerukan pengakhiran operasi UNRWA di Gaza. “Kami telah memberikan peringatan selama bertahun-tahun bahwa UNRWA memperpanjang masalah pengungsi, menghambat perdamaian, dan beroperasi sebagai lengan sipil dari Hamas di Gaza,” ungkap Katz.

Katz juga menekankan bahwa UNRWA tidak seharusnya memiliki tempat dalam masa depan wilayah tersebut.

Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, juga menyatakan bahwa Israel, bukan UNRWA, yang seharusnya mengontrol Gaza pasca-konflik.

Israel melihat penghancuran atau penghentian bantuan kepada UNRWA sebagai bagian kunci dari strategi mereka dalam konflik saat ini di Gaza.

Seorang mantan pejabat Israel, Noga Arbel, menyampaikan sentimen yang serupa, menganggap UNRWA sebagai ancaman utama bagi Israel. “Kita tidak akan bisa memenangkan konflik ini tanpa terlebih dahulu menyingkirkan UNRWA,” kata Arbel.

Arbel juga menyatakan bahwa serangan Israel terhadap Palestina saat ini memberikan peluang untuk “mengirim UNRWA ke neraka” dan menghentikan kegiatan mereka yang dituduhkan sebagai “penciptaan teroris.”

UNRWA merupakan salah satu dari segelintir entitas di Palestina yang tidak berada di bawah kendali Israel.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, baru-baru ini mengutarakan pandangannya mengenai kontrol wilayah Palestina. Dalam pernyataannya pekan lalu, Netanyahu menegaskan pentingnya bagi Israel untuk mempertahankan kendali atas keamanan di Gaza sebagai langkah untuk menjaga negaranya dari ancaman.

Lebih lanjut, dia menyampaikan penolakannya terhadap gagasan pembentukan negara Palestina dan ide solusi dua negara. Solusi dua negara ini telah lama menjadi konsep yang didukung oleh banyak anggota komunitas internasional, yang bertujuan untuk menciptakan dua negara yang eksis secara damai, berdampingan satu sama lain, dan saling mengakui serta menghormati kedaulatan masing-masing.

Israel Serang Fasilitas UNRWA di Gaza, Puluhan Pengungsi Tertangkap

journalofserviceclimatology.org – Menurut laporan yang muncul pada hari Senin, tanggal 29 Januari, pasukan Israel diberitakan telah melancarkan serangan terhadap sebuah tempat penampungan yang dikelola oleh United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA) di Kota Gaza. Dalam operasi tersebut, banyak pria yang mengungsi di fasilitas tersebut dikatakan telah ditangkap oleh pasukan Israel.

Saksi di lokasi kejadian menyampaikan kepada kantor berita Palestina, Wafa, bahwa ada kepanikan di kalangan anak-anak dan wanita yang berusaha mencari tempat aman setelah serangan oleh pasukan yang dijuluki Zionis itu terjadi.

Dilaporkan juga bahwa sejumlah wanita dan anak-anak sempat terperangkap di dalam gedung sementara pria-pria tersebut dibawa pergi oleh pasukan Israel.

Mereka yang berhasil melarikan diri dilaporkan mencari suaka di Rumah Sakit Baptist, tempat yang pernah menjadi target bombardir oleh Israel sebelumnya.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa selain menargetkan penampungan milik UNRWA, pasukan Israel juga melakukan serangan terhadap beberapa tempat perlindungan lain di dalam kota.

Menurut sumber berita Wafa, serangan yang dilancarkan oleh Israel di Gaza telah menyebabkan kematian lebih dari 26.600 orang, dengan anak-anak dan wanita menjadi mayoritas di antara korban.

Israel, dalam pernyataannya, mengungkapkan bahwa fokus operasi mereka saat ini adalah menargetkan wilayah selatan Gaza, setelah mengklaim berhasil mengeliminasi keberadaan Hamas di wilayah utara.

Salah satu kota yang menjadi target serangan Israel adalah Khan Younis, yang dipercayai oleh pihak Zionis sebagai tempat persembunyian pemimpin-pemimpin Hamas.

Israel Siap Invasi Lebanon Besar-Besaran, Begini Tanggapan Hizbullah

journalofserviceclimatology.org – Menurut laporan yang disiarkan oleh LBCI Lebanon pada hari Sabtu, terdapat indikasi bahwa Israel mungkin sedang merencanakan operasi militer skala besar melawan Hizbullah di Lebanon. Laporan ini muncul di tengah pertukaran roket dan mortir antara Hizbullah dan Israel selama pertempuran yang sedang berkecamuk antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, yang telah memprovokasi serangan-serangan balasan dari pasukan Israel.

Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh LBCI, sumber intelijen yang tidak disebutkan namanya dari negara Arab telah memberitahukan Hizbullah tentang potensi rencana invasi Israel. Tujuan dari invasi tersebut, menurut laporan tersebut, adalah untuk mendorong Hizbullah mematuhi ketetapan dari Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701, yang dicetuskan sebagai hasil dari konflik Israel-Lebanon pada tahun 2006.

Resolusi tersebut membantu dalam pembentukan zona demiliterisasi di sepanjang perbatasan antara Israel dan Lebanon. Ketegangan meningkat belakangan ini, terutama setelah Israel melakukan serangan yang menyebabkan kematian Saleh al-Arouri, wakil pemimpin Hamas, di Beirut. Mohammad Raad, pemimpin blok parlemen Hizbullah di Lebanon, mengeluarkan peringatan terhadap Israel untuk tidak melancarkan serangan. Pada sebuah acara Hizbullah, Raad menegaskan bahwa pertahanan Lebanon merupakan prioritas tertinggi dan bahwa Hizbullah tidak akan ragu untuk terlibat dalam konflik jika diperlukan. Ia mengatakan bahwa hingga saat ini, Israel baru merasakan sebagian dari kekuatan Hizbullah. “Jika konflik penuh terjadi, maka Israel akan menghadapi konsekuensi yang lebih besar,” seperti yang dikutip oleh Jerusalem Post pada hari Minggu, 28 Januari 2024.

Media di Israel telah menyatakan skeptisisme terhadap laporan tentang persiapan invasi skala besar ke Lebanon, menandainya sebagai tidak akurat. Laporan tersebut muncul pada saat yang sama dengan peningkatan serangan roket di wilayah utara Israel. Sebelumnya, setelah sirene peringatan roket diaktifkan di komunitas Shlomi, sebuah misil anti-tank ditembakkan ke wilayah utara negara itu, yang mendarat di zona terbuka. Beruntung, tidak ada laporan tentang korban atau kerusakan sebagai akibat dari insiden tersebut.

Sirene peringatan juga berbunyi di beberapa pemukiman lain termasuk Dafna, Gosher, Ajjar, Kibbutz Dan, She’ar Yashuv, dan Shnir, sebagai tindakan pencegahan terhadap potensi infiltrasi oleh pasukan lawan. Selanjutnya, terdapat laporan bahwa empat anggota milisi Hizbullah tewas dalam serangan Israel terhadap kota Beit Leaf di Lebanon selatan pada malam Jumat. Diikuti dengan serangkaian peringatan sirene roket yang terdengar di bagian utara Israel pada malam Sabtu, alarm tersebut terdengar di komunitas Arab al-Aramshe, Adamit, Zrait, dan Shumra.

“Jet tempur IDF telah menargetkan dua struktur operasional yang digunakan oleh Hizbullah di desa Beit Leaf dan sebuah bangunan militer di desa Deir Ams di selatan Lebanon,” menurut keterangan dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Dalam minggu yang sama, Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Herzi Halevi mengindikasikan bahwa kemungkinan konfrontasi dengan Lebanon sekarang lebih tinggi dibandingkan masa lalu, dan IDF telah meningkatkan kesiapan mereka untuk tanggapan terhadap serangan yang mungkin terjadi.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Lebanon Abdallah Bou Habib menekankan bahwa campur tangan dari negara-negara lain dalam konflik Israel-Hamas adalah hal yang tidak dapat diterima.

Menteri Luar Negeri Lebanon Abdallah Bou Habib memberikan pernyataan tegas mengenai potensi konflik, menggarisbawahi bahwa konfrontasi militer dengan Lebanon tidak akan mudah bagi Israel. Dia menekankan bahwa konflik tersebut tidak akan berjalan sederhana atau tanpa komplikasi untuk Israel.

Dalam konteks yang sama, anggota parlemen Lebanon dari blok politik Hizbullah, Hassan Ezzedine, memberikan peringatan serupa. Dia menyatakan bahwa militan dari kelompoknya akan memberikan respons yang kuat terhadap agresi apa pun, dengan tekad untuk melakukan balasan yang lebih intensif dan menghantam musuh dengan kekuatan ganda.

Tekanan Politik ke Presiden Joe Biden Makin Kuat, Akankah As Menyerang Iran?

journalofserviceclimatology.org – Tiga tentara Amerika dibunuh dan sejumlah lainnya terluka pada tanggal 28 Januari 2024, dalam sebuah serangan oleh milisi yang didukung Iran, yang meningkatkan tekanan pada Presiden Joe Biden untuk melakukan tindakan langsung terhadap Iran. Namun, ada kekhawatiran bahwa tindakan semacam itu bisa memicu konflik yang lebih besar. Presiden Biden memiliki berbagai opsi tanggapan, mulai dari menargetkan kekuatan Iran di lokasi-lokasi luar negeri hingga serangan langsung di dalam wilayah Iran, atau bahkan memilih tindakan balasan yang lebih terukur terhadap milisi yang bertanggung jawab.

Pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah mengalami lebih dari 150 serangan oleh kelompok yang didukung Iran di Irak, Suriah, Yordania, dan di perairan lepas pantai Yaman sejak konflik Israel-Hamas pada bulan Oktober. Namun, serangan terakhir yang terjadi pada hari Minggu di pos terpencil yang dikenal sebagai Menara 22, di dekat perbatasan timur laut Yordania dengan Suriah, merupakan salah satu dari sedikit yang menyebabkan kematian tentara Amerika atau cedera serius.

Situasi ini memberikan Biden kesempatan politik untuk melakukan aksi balasan Amerika yang akan merugikan kelompok yang didukung Iran tanpa memicu konfrontasi langsung dengan Iran. Presiden Biden menyatakan bahwa Amerika Serikat akan bereaksi, namun tidak memberikan detail lebih jauh.

Anggota Partai Republik telah menyerang Biden, menuduhnya membiarkan pasukan Amerika menjadi target yang mudah dan menunggu saat dimana drone atau misil akan berhasil melewati sistem pertahanan militer. Mereka mengklaim momen itu telah tiba pada hari Minggu, saat drone melakukan serangan di dekat barak pangkalan militer di pagi hari. Sebagai respon, Senator AS dari Partai Republik, Tom Cotton, bersama dengan Mike Rogers, yang memimpin komite pengawasan militer di DPR, menyerukan tindakan keras terhadap Iran.

“Kita telah meninggalkan pasukan kita terbuka untuk serangan,” kata Cotton, yang menambahkan bahwa “satu-satunya cara untuk merespons serangan ini adalah dengan serangan militer yang kuat terhadap pasukan teroris Iran, baik di dalam maupun di luar Iran.” Mike Rogers juga mendesak Presiden Biden untuk mengambil tindakan keras terhadap Iran, mengatakan, “Sudah waktunya bagi Presiden Biden untuk secara tegas menuntut pertanggungjawaban atas serangan-serangan yang dilakukan oleh rezim Iran dan proksi mereka.”

Mantan Presiden Donald Trump, yang menantang Biden dalam pemilihan presiden yang akan datang, mengkritik serangan tersebut sebagai “hasil dari kebijakan penyerahan dan kelemahan Biden.” Pemerintahan Biden telah menegaskan komitmennya untuk melindungi keamanan pasukan AS di seluruh dunia. Namun, kritik juga muncul dari dalam partai Demokrat sendiri mengenai pendekatan Biden terhadap konflik Israel-Hamas di Gaza.

“Yang kita saksikan saat ini adalah situasi yang semakin tidak teratasi dan berkembang menjadi konflik regional. Akibatnya, AS dan pasukannya menghadapi risiko,” ujar anggota Kongres Demokrat Barbara Lee, yang menyerukan gencatan senjata di Gaza. Sebaliknya, anggota Kongres Demokrat Seth Moulton, yang empat kali bertugas di Irak sebagai Marinir, merespons seruan konflik dari Partai Republik dengan mengatakan, “Pencegahan adalah hal yang sulit; konflik adalah hal yang lebih buruk.”

“Bagi mereka yang menganjurkan perang terhadap Iran, Anda hanya membantu musuh—dan saya ingin melihat Anda mengirim anak-anak Anda ke dalam pertempuran,” kata Moulton. “Kita perlu mengambil tindakan yang efektif dan strategis, sesuai dengan hukum dan waktu yang kita tentukan sendiri.”

Pakar keamanan memperingatkan bahwa serangan apa pun terhadap pasukan Iran di wilayah mereka bisa memprovokasi Teheran untuk melakukan balasan keras, memperparah situasi dan berpotensi menyeret AS ke dalam konflik besar di Timur Tengah. Jonathan Lord, direktur program keamanan Timur Tengah di Center for a New American Security, menekankan bahwa serangan langsung di Iran akan mempertaruhkan kestabilan rezim di Teheran.

“Serangan yang terang-terangan merupakan eskalasi yang signifikan bagi Iran,” menurut Lord.

Charles Lister dari Middle East Institute yang berbasis di Washington, DC, mengemukakan bahwa tanggapan yang memungkinkan dapat melibatkan tindakan terhadap sasaran penting atau tokoh-tokoh penting dari kelompok militan yang didukung oleh Iran di Irak atau Suriah. “Kejadian pagi ini merupakan eskalasi yang signifikan dibandingkan dengan apa yang telah kami lihat dari kelompok-kelompok proksi ini beberapa bulan terakhir… namun, meskipun ada dorongan untuk melakukan serangan ke dalam wilayah Iran, saya tidak berpikir bahwa administrasi ini akan menggigit umpan tersebut,” ujar Lister.

Seorang pejabat pertahanan Amerika yang memilih untuk tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa efek yang mungkin terjadi terhadap Iran pada tingkat kedua dan ketiga tidaklah jelas. “Kecuali Amerika Serikat siap untuk konfrontasi total, menyerang Iran tampaknya tidak memiliki tujuan yang jelas,” kata pejabat tersebut.

Lord dan para ahli lainnya mengakui bahwa Israel telah menyerang target Iran di Suriah untuk waktu yang lama tanpa memprovokasi Iran secara langsung, termasuk serangan terhadap empat pejabat dari Korps Garda Revolusi Iran di Damaskus pada tanggal 20 Januari. AS sendiri telah melakukan serangan terhadap sasaran yang terkait dengan Iran di luar negeri dalam beberapa bulan terakhir. Pada bulan November, militer AS menyatakan telah menyerang fasilitas yang digunakan oleh kelompok yang didukung Iran dan juga oleh Korps Garda Revolusi Iran.

Lister mencatat bahwa AS telah menargetkan warga negara Iran di luar negeri sebelumnya, seperti dalam kasus serangan terhadap Jenderal Iran Qassem Soleimani pada tahun 2020, yang menghasilkan reaksi terbatas. “Jadi, sampai batas tertentu, ada pola yang menunjukkan bahwa dengan tindakan yang cukup tegas dan signifikan, Amerika Serikat dapat menetapkan preseden bahwa Iran akan menghindari eskalasi lebih lanjut,” tambah Lister.

Mahkamah Internasional Minta Israel Hentikan Genosida di Gaza

journalofserviceclimatology.org – Mahkamah Internasional (ICJ) telah mengeluarkan instruksi dalam sebuah keputusan sementara pada hari Jumat (26/01), yang menuntut Israel untuk mengambil segala langkah yang diperlukan untuk menghindari tindakan genosida di Gaza. Keputusan ini muncul sebagai respons atas gugatan yang diajukan oleh Afrika Selatan terhadap Israel atas tuduhan genosida.

Namun, ICJ tidak memberikan perintah untuk sebuah gencatan senjata yang segera.

Menurut keputusan ICJ, Israel diharuskan untuk dengan segera memastikan bahwa pasukan militernya tidak melakukan pembunuhan terhadap warga Palestina atau menyebabkan luka-luka serius, baik secara fisik maupun mental, merusak kondisi kehidupan mereka, atau menghalangi kelahiran di kalangan populasi Palestina.

Hakim Joan E. Donoghue, yang menyampaikan keputusan tersebut, menekankan bahwa penduduk Palestina di Gaza tetap dalam kondisi yang sangat rawan dan mengalami kesulitan yang mendalam.

Hakim dalam kasus yang diajukan oleh Afrika Selatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ) menilai bahwa klaim yang dibuat atas nama Palestina adalah “berdasarkan alasan yang kuat”.

Keputusan yang diumumkan di Den Haag, Belanda, ini bukan merupakan penyelesaian akhir dari kasus genosida yang diajukan oleh Afrika Selatan. Keputusan akhir dari kasus ini diperkirakan akan memakan waktu beberapa tahun lagi untuk diselesaikan.

Namun, keputusan interim ini dianggap krusial untuk menjamin perlindungan bagi penduduk Palestina di Gaza.

Riyad Al-Maliki, Menteri Luar Negeri dari Otoritas Palestina yang menguasai Tepi Barat, mengapresiasi keputusan tersebut sebagai yang “berpihak pada kemanusiaan.”

“Keputusan ICJ didasarkan pada bukti dan hukum yang ada, berpihak pada aspek kemanusiaan serta hukum internasional,” ungkap Riyad Al-Maliki, seperti dikutip oleh Reuters.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan “terus melindungi diri dan warganya dengan mengikuti hukum internasional”.

Netanyahu menambahkan bahwa Israel bertekad untuk “meneruskan pertempuran sampai mencapai kemenangan total” dan “sampai semua tawanan kembali”.

Sebelumnya, Israel berharap agar ICJ akan menolak kasus tersebut, tetapi hakim menentukan bahwa ada cukup bukti untuk mendukung klaim yang diajukan oleh Afrika Selatan.

Afrika Selatan diakui memiliki dasar hukum yang valid untuk mengajukan gugatan di Mahkamah Internasional (ICJ) sebagai negara yang telah meratifikasi konvensi anti-genosida.

Naledi Pandor, Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, yang hadir selama persidangan, mengemukakan pandangan bahwa tanpa adanya gencatan senjata, efektivitas perintah tersebut mungkin terbatas.

“Saya berharap ada perintah eksplisit untuk penghentian kekerasan dalam keputusan, tetapi saya tetap menghargai instruksi yang telah dikeluarkan,” ujar Pandor.

Ia juga menyatakan harapannya bahwa negara-negara yang memiliki pengaruh terhadap Israel akan mendorong pematuhan terhadap perintah ini.

Kim Jong Un Hancurkan Monumen Reunifikasi, Dan Menyebut Korsel Musuh Utama

journalofserviceclimatology.org – Pimpinan Korea Utara, Kim Jong Un, telah memerintahkan pembongkaran sebuah monumen yang sebelumnya menjadi simbol aspirasi rekonsiliasi dengan Korea Selatan. Kim telah menyatakan Korea Selatan sebagai “musuh utama” dan menyampaikan pandangan bahwa reunifikasi kedua Korea kini tampak tidak lagi mungkin.

Gambar satelit yang diambil di Pyongyang pada hari Selasa tanggal 23 Januari menunjukkan bahwa monumen tersebut – yang merupakan lengkungan simbolis dari harapan reunifikasi yang dibuka selama pertemuan puncak inter-Korea di tahun 2000 – telah dihilangkan, ini berdasarkan pemberitaan NK News, sebuah outlet berita yang fokus pada pemantauan Korea Utara.

Dua ahli terkemuka dalam urusan Korea mengutarakan opini mengejutkan yang mengindikasikan bahwa mereka percaya Kim Jong Un mungkin sedang bersiap untuk konflik dengan Korea Selatan.

“Kami percaya, mirip dengan langkah kakeknya di tahun 1950, Kim Jong Un telah mengambil keputusan strategis untuk pergi ke jalur perang,” menurut tulisan yang dibuat oleh Robert L Carlin, seorang analis CIA terdahulu, dan Siegfried S Hecker, seorang ilmuwan nuklir yang telah mengunjungi Korea Utara beberapa kali, dalam sebuah publikasi di website 38 North.

Komentar tersebut telah memicu perhatian di Washington dan Seoul, serta membuka diskusi di antara para pengamat tentang situasi di Semenanjung Korea. Namun, mayoritas analis tidak setuju dengan gagasan bahwa konflik militer di Semenanjung Korea sudah dekat.

“Merisikokan seluruh keberlanjutan rezim untuk sebuah konflik yang bisa sangat merusak bukanlah langkah yang akan diambil oleh Korea Utara dengan ringan. Sejarah mereka menunjukkan pendekatan yang sangat kalkulatif,” kata Christopher Green, seorang analis Korea dari Crisis Group yang berbasis di Belanda.

Green dan pakar lainnya mengakui bahwa Korea Utara seringkali melakukan provokasi untuk membawa negara-negara Barat kembali ke meja perundingan, dan juga terdapat faktor tekanan politik domestik.

Meski demikian, ada kesepakatan umum bahwa meningkatnya frustrasi Kim harus diperhatikan dan bahwa rezimnya menjadi semakin tak terduga dan berpotensi berbahaya.

Walaupun kebanyakan pakar menganggap perang sebagai sebuah kemungkinan yang masih jauh, masih ada kekhawatiran bahwa agresi berskala lebih kecil mungkin terjadi.

Apakah Kemungkinan Akan Perang Antar Korut dan Korsel

Para pengamat yang telah lama mengikuti perkembangan di Korea Utara tidak asing dengan retorika nuklir yang sering diucapkan oleh Kim Jong Un. Namun, beberapa analis menilai bahwa terdapat nuansa baru dalam pernyataan terkini yang keluar dari Pyongyang.

Hanya enam hari setelah Kim Jong Un menyatakan dalam pidato Tahun Baru bahwa semenanjung Korea dapat melihat pecahnya konflik setiap saat, militer Korea Utara melakukan serangan artileri yang menyeberangi perbatasan.

Lebih lanjut, Korea Utara telah mengumumkan uji coba rudal dengan bahan bakar padat yang baru dan pengembangan drone bawah air yang berpotensi dilengkapi senjata nuklir, sejak awal tahun ini.

Tindakan ini melanjutkan pola peluncuran rudal dan peningkatan kapasitas senjata yang telah berlangsung nyaris bulanan selama dua tahun terakhir, yang secara terbuka melanggar sanksi yang diberlakukan oleh PBB.

Namun, yang paling mengejutkan bagi banyak orang adalah pengumuman Kim Jong Un baru-baru ini yang secara eksplisit menolak tujuan reunifikasi yang sebelumnya dipegang.

Reunifikasi dengan Korea Selatan telah lama menjadi elemen penting, meskipun semakin diragukan dalam kenyataannya, dari ideologi Korea Utara sejak negara itu didirikan.

“Perubahan ini sangat signifikan. Ini mengubah salah satu prinsip dasar dari ideologi yang dianut oleh rezim,” menurut Peter Ward, seorang peneliti senior di Universitas Kookmin yang berlokasi di Seoul.

Dilihat sebagai langkah simbolis yang kuat, Kim Jong Un bersiap untuk secara literal menghapus warisan reunifikasi.

Di samping menghentikan komunikasi diplomatik dan siaran lintas perbatasan, dia juga telah menyatakan rencana untuk meruntuhkan Reunification Arch, sebuah monumen besar yang terdiri dari sembilan tingkat yang terletak di pinggiran ibu kota Pyongyang.

Monumen yang menampilkan lengkungan dengan dua figur perempuan yang mengenakan busana tradisional Korea dan bergandengan tangan ini, didirikan pada tahun 2001 sebagai simbolisasi dari upaya pendekatan yang dilakukan oleh pendahulu Kim Jong Un, yakni kakek dan ayahnya, terhadap reunifikasi dengan Korea Selatan.

Gambar yang diambil oleh Planet Labs dan dirilis pada hari Selasa (23/11) menunjukkan bahwa monumen tersebut tampaknya telah dihancurkan, namun belum ada pengumuman resmi yang membenarkan peristiwa tersebut.

Kim Il Sung, yang memimpin Korea Utara selama perang pada tahun 1950, juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan ide bahwa warga Korea Utara suatu saat akan bersatu kembali dengan kerabat mereka di selatan.

Namun, sikap cucunya saat ini tampaknya telah berubah, dengan mendefinisikan warga Korea Utara sebagai kelompok yang berbeda dari warga Korea Selatan – suatu langkah yang dapat diinterpretasikan sebagai upaya untuk menjustifikasi penggambaran Korea Selatan sebagai musuh yang sah dalam konteks militer.

Houthi yang Didukung Iran Akankah Menyeret AS dan Sekutunya ke dalam Perang?

journalofserviceclimatology.org – Mencapai kemenangan tidak akan menjadi tugas yang sederhana bagi koalisi internasional yang terdiri dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, Bahrain, Kanada, dan Belanda, yang bertekad untuk menargetkan serangan terhadap posisi Houthi di Yaman.

Tercatat, sejak pertengahan November telah terjadi setidaknya 30 insiden serangan oleh kelompok Houthi, yang menerima dukungan keuangan dari Iran, terhadap kapal-kapal internasional dan niaga di Laut Merah, dengan indikasi bahwa serangan tersebut akan berlanjut.

Pejabat dari Kementerian Pertahanan Amerika Serikat memberikan pernyataan pada tanggal 23 Januari yang menyatakan kesiapan mereka untuk mengambil langkah-langkah tambahan guna menetralkan ancaman atau merespons serangan, dengan tujuan utama untuk menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan Laut Merah serta rute-rute perdagangan internasional.

Serangan beruntun yang dilancarkan oleh Houthi ini telah menjadi sumber gangguan bagi pelayaran dunia dan menambah kecemasan atas kemungkinan eskalasi dari konflik Israel-Hamas yang bisa berujung pada pengaruh yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Kerajaan Arab Saudi memilih untuk tidak memberikan komentar tentang situasi yang berkembang di Laut Merah, sementara proses negosiasi untuk mencapai kesepakatan damai antara Arab Saudi dan Houthi terus berlangsung. Dengan pertimbangan bahwa Amerika Serikat kini menghadapi tantangan yang sama dengan yang telah dihadapi Arab Saudi – tanpa keberhasilan yang signifikan – hampir selama sepuluh tahun, pertanyaan muncul mengenai kemungkinan AS untuk mencapai kemenangan atas kelompok Houthi tersebut.

Alasan AS dan Inggris Menyerang Yaman

Sebelum eskalasi serangan oleh Houthi, ada upaya-upaya diplomatik yang dilakukan untuk menenangkan ketegangan di Laut Merah, tetapi inisiatif tersebut ditolak oleh pihak Houthi.

“Kami menyesalkan situasi ini telah berkembang sejauh ini,” ungkap Tim Lenderking, Perwakilan Khusus AS untuk Yaman.

Houthi, yang mengontrol wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Yaman, menyatakan serangan mereka sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina di tengah konflik dengan Israel di Gaza.

Namun, serangan yang dilakukan oleh Houthi lebih luas, dengan menargetkan kapal-kapal yang memasuki zona mereka, membahayakan nyawa awak kapal dan muatan mereka.

William Wechsler dari Atlantic Council, sebuah institusi analisis kebijakan, menekankan bahwa AS dan sekutunya, seperti Inggris, mungkin harus menanggapi ancaman ini dengan tindakan tegas. “Dalam konteks perdagangan internasional, terdapat delapan jalur laut kritis, dan separuh dari jalur tersebut berada di Timur Tengah, yang juga sangat vital dalam distribusi pasokan energi global,” ujar Wechsler.

“Dengan mengancam salah satu titik vital ini, yaitu Selat Bab El Mandeb, Houthi telah bertindak dengan cara yang tidak dapat diterima,” lanjut Wechsler.

“Dia menambahkan bahwa pentingnya titik strategis ini tidak bisa diabaikan oleh siapa pun yang memahami pentingnya energi bagi kelangsungan hidup kita, atau oleh siapa pun yang peduli dengan pertumbuhan ekonomi global, menunjukkan perlunya perlindungan yang kuat atas jalur-jalur penting tersebut.”

Seberapa Kuat Pasukan Houthi

Kelompok Houthi telah membuktikan diri sebagai oposan yang kuat terhadap militer dari negara berdaulat seperti Arab Saudi.

Seiring berjalannya waktu, dengan bantuan Iran, Houthi telah berkembang dari sekedar kelompok pemberontak menjadi kekuatan tempur yang lebih terorganisir dengan akses ke alat-alat militer lebih modern, termasuk helikopter.

“Ada dua aspek dalam ketahanan: kemauan dan kapasitas. Tidak ada keraguan tentang keberadaan kemauan di pihak Houthi, tetapi banyak yang beranggapan bahwa mungkin untuk menghambat kapasitas mereka,” ujar Will Wechsler dari Atlantic Council.

Walaupun Houthi telah menunjukkan kemampuan untuk menghadapi kekuatan besar seperti Arab Saudi, menghadapi Amerika Serikat dan koalisi internasional adalah sebuah tantangan yang sangat berbeda.

Kapasitas gabungan, strategi, dan pengalaman dari Amerika Serikat dan sekutunya jelas melampaui apa yang dimiliki oleh Arab Saudi.

Pertanyaan yang kini muncul di kalangan analis adalah seberapa jauh Amerika Serikat bersedia pergi untuk menghentikan aktivitas Houthi.

“Kita memiliki sumber daya militer yang sangat besar; penting untuk menggunakan kekuatan tersebut dengan cermat,” menurut Steven A Cook, Peneliti Senior Eni Enrico Mattei di Council on Foreign Relations, dalam sebuah konferensi pers.

“Ini bukan tentang … melakukan intervensi militer di Yaman, mengganti rezim, ataupun hal-hal yang telah dilakukan AS di masa lalu,” tambah Cook.

Dia menyampaikan bahwa dari diskusi dengan beberapa pejabat Arab, pesannya adalah bahwa tindakan ringan saja tidak akan cukup untuk menghentikan Houthi.

“Mereka menekankan bahwa tindakan militer yang signifikan diperlukan, yang akan membuat sangat sulit, atau bahkan mustahil, bagi Houthi untuk terus mengganggu dan menyerang pengiriman barang melalui Teluk.”

Bagaimana Iran Terlibat Dalam Aksi Houthi di Laut Merah

Meskipun Iran dikenal memberikan dukungan senjata dan finansial kepada Houthi, kelompok ini tidak sepenuhnya beroperasi di bawah kendali Iran.

Ray Takeyh, seorang peneliti senior di Council on Foreign Relations, mengemukakan: “Mereka telah mengadopsi kebijakan yang bersifat anti-Amerika dan anti-Israel secara mandiri. Mereka tidak didorong ke posisi tersebut oleh Iran. Dengan kata lain, mereka bukanlah buatan Iran.

“Ini lebih merupakan kolaborasi antara pihak-pihak yang memiliki pandangan serupa… Houthi muncul sebagai kekuatan yang mengambil kesempatan untuk memberikan tekanan pada Arab Saudi.”

Dari perspektif Iran, Houthi menjadi aset karena mereka memberikan leverage terhadap Israel, melalui tekanan yang mereka dapatkan dari AS.

Menurut Takeyh, Iran berharap kekhawatiran internasional dan dari AS mengenai kemungkinan konflik yang meluas akan mendorong upaya-upaya untuk mempengaruhi kebijakan Israel.

“Premis dasar di sini adalah bahwa komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat, memiliki kemampuan untuk memberikan pembatasan terhadap Israel. Israel adalah sebuah negara yang berdaulat dan menghadapi tantangan yang sangat kompleks. Ini adalah negara yang hidup dalam kondisi yang penuh dengan tekanan sejarah dan keamanan.”

 

China Marah Besar Atas Krisis Laut Merah dan Ancam Iran

journalofserviceclimatology.org – China telah mulai mengambil langkah-langkah responsif terhadap serangan oleh kelompok Houthi di Laut Merah, menunjukkan kekhawatiran terhadap aksi tersebut yang menimbulkan gangguan pada rute perdagangan vital. Beijing, dalam usahanya, telah mendekati Iran, yang dianggap memiliki pengaruh terhadap Houthi di Yaman, dengan permintaan agar Teheran menggunakan pengaruhnya untuk mengekang tindakan agresif kelompok tersebut.

Menurut sumber-sumber yang dekat dengan situasi ini, termasuk empat pejabat Iran dan seorang diplomat yang paham dengan diskusi ini, telah terjadi serangkaian pertemuan di mana China dan Iran membahas masalah serangan serta aspek perdagangan bilateral. Meski detail spesifik dari pertemuan-pertemuan ini tidak diungkapkan, inti dari pesan China tampak jelas.

Seorang pejabat Iran mengutip pesan dari pihak China, “Kami meminta agar Houthi mengendalikan tindakannya, karena jika kepentingan kami terganggu, ini akan mempengaruhi hubungan komersial kami dengan Teheran,” menurut sumber yang dikutip dari Reuters pada tanggal 28 Januari 2024.

Dalam diskusi tersebut, sumber mengindikasikan bahwa meskipun tidak ada ancaman atau komentar spesifik yang diberikan oleh pejabat China, ada pemahaman tersirat bahwa kegiatan perdagangan antara China dan Iran bisa terpengaruh negatif jika serangan Houthi terus berlanjut dan mengganggu kepentingan China.

Serangan yang dilakukan oleh Houthi telah memberi tekanan pada biaya pengiriman dan asuransi dengan mengancam jalur perdagangan utama yang menghubungkan Asia dengan Eropa, jalur yang juga sangat penting bagi transportasi maritim China. Serangan ini, yang dilakukan oleh Houthi, merupakan bentuk dukungan terhadap warga Palestina di Gaza.

Sumber-sumber dari Iran memberikan informasi bahwa Beijing telah menyampaikan pesan yang kuat tentang potensi kekecewaannya kepada Teheran, khususnya apabila serangan mengenai aset-aset atau merugikan kepentingan China di kawasan tersebut.

Saat ditanya tentang interaksi dengan Iran terkait insiden di Laut Merah, Kementerian Luar Negeri China mengungkapkan: “China selalu menjalin persahabatan yang kuat dengan negara-negara di Timur Tengah dan berdedikasi untuk mendukung kestabilan serta keamanan kawasan tersebut, dengan tujuan bersama untuk mencapai kemajuan dan kemakmuran.”

“Kami dengan tegas mendukung upaya negara-negara Timur Tengah untuk membangun otonomi strategis yang lebih kuat, bekerja bersama, dan berkolaborasi untuk menangani tantangan keamanan yang dihadapi kawasan,” lanjut pernyataan tersebut.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Kementerian Luar Negeri Iran mengenai inisiatif China ini.

Menkeu AS Terus Terang Soal Resesi AS dan Donald Trump

journalofserviceclimatology.org – Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, menunjukkan optimisme terhadap ekonomi negara, dengan memprediksi bahwa tahun 2024 akan berlangsung tanpa resesi ekonomi, didorong oleh kepercayaan konsumen yang meningkat terhadap kondisi keuangan mereka. Dalam sebuah wawancara dengan ABC News pada hari Kamis (25/1/2024), Yellen menekankan bahwa meskipun tidak ada yang bisa dipastikan sepenuhnya dan risiko selalu ada, dia memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa tren ekonomi positif akan berlanjut.

Yellen mengacu pada kepercayaan yang dirasakan oleh konsumen dan rumah tangga dalam menangani keuangan pribadi mereka dan prospek ekonomi yang cerah yang mendukung belanja berkelanjutan. Pendapat ini didukung oleh data terbaru mengenai Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat yang menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan, menantang prediksi resesi yang sebelumnya dikhawatirkan oleh para analis ekonomi.

Pemerintahan Biden berharap bahwa data ekonomi terbaru ini dapat membalikkan pandangan skeptis pemilih terhadap ekonomi di masa depan. Yellen menyoroti survei yang menunjukkan perbaikan signifikan dalam sentimen konsumen, termasuk indeks yang dikeluarkan oleh University of Michigan, yang telah mencapai angka tertinggi sejak pertengahan tahun 2021.

Memanfaatkan gelombang optimisme ini, Yellen bersama dengan Presiden Biden melakukan perjalanan ke wilayah Midwest. Yellen, dalam pidatonya di Chicago, memuji kebijakan pemerintah saat ini dalam pembangunan infrastruktur, industri manufaktur, dan inisiatif energi bersih. Biden sendiri mengunjungi proyek infrastruktur yang dibiayai oleh legislatif – sebuah jembatan baru di Wisconsin, yang merupakan negara bagian penting dalam peta politik AS.

Yellen, yang dikenal konservatif dalam terlibat dalam politik partai, juga mengambil langkah tidak biasa dengan mengkritik mantan Presiden Donald Trump, anggota Partai Republik yang dianggap sebagai pesaing potensial Biden dalam pemilihan mendatang. Ini menunjukkan pentingnya ekonomi sebagai isu utama dalam dialog politik nasional, terutama menjelang pemilihan yang akan datang.

Menteri Keuangan Janet Yellen, yang umumnya terhindar dari adu politik, secara mengejutkan mengkritik eks Presiden Donald Trump, yang mungkin akan bersaing dengan Presiden Biden dalam pemilihan yang akan datang.

Setelah dirilisnya data PDB yang menandakan pertumbuhan ekonomi yang signifikan di Amerika Serikat, Yellen menyampaikan pandangan kontrastif terhadap ekspektasi resesi yang banyak diperkirakan oleh analis ekonomi. Kemajuan ini diperkirakan akan mempersiapkan pemerintahan Biden untuk membalikkan pandangan negatif para pemilih terkait situasi ekonomi yang akan datang.

Menurut Yellen, seperti yang dilaporkan dalam survei terkini, ada peningkatan yang sangat positif dalam persepsi konsumen, dengan indeks sentimen konsumen dari University of Michigan mencatatkan angka tertinggi sejak pertengahan 2021.

Dalam semangat untuk mengembangkan sentimen ekonomi yang positif ini, Yellen dan Presiden Biden merencanakan kunjungan ke wilayah Midwest. Dalam sebuah pidato di Chicago, Yellen memberikan pujian terhadap inisiatif pemerintah dalam sektor infrastruktur, manufaktur, dan energi terbarukan. Sementara itu, Biden, dalam sebuah kunjungan terpisah, memeriksa progres pembangunan infrastruktur utama di Wisconsin yang didukung oleh legislasi federal.

Langkah langka Yellen untuk berbicara secara politis, khususnya dengan mengarahkan kritik terhadap Trump, menekankan pentingnya isu ekonomi dalam konteks politik saat ini, terutama dengan pemilihan yang akan segera berlangsung.

Warga Palestina Terpaksa Tinggalkan Tanah Kelahiran Setelah Diusir Israel

journalofserviceclimatology.org – Konflik Israel-Palestina terus menimbulkan luka mendalam bagi warga Palestina. Dalam perkembangan terbaru, peningkatan tindakan pengusiran oleh Israel terhadap warga Palestina telah memaksa mereka untuk meninggalkan tanah kelahiran yang telah dihuni selama generasi.

Kerap kali, pengusiran ini terjadi di bawah klaim keamanan atau ekspansi pemukiman oleh pemerintah Israel. Warga Palestina yang tinggal di wilayah yang dianggap strategis atau di atas tanah yang diinginkan untuk pembangunan pemukiman baru, menghadapi risiko tinggi pengusiran.

Para warga Palestina yang terkena dampak tidak hanya kehilangan rumah mereka, tetapi juga kehilangan akses ke sumber penghasilan, sekolah, dan infrastruktur dasar lainnya. Pengusiran ini seringkali tidak menyediakan alternatif atau kompensasi yang memadai, meninggalkan banyak keluarga dalam situasi yang tidak pasti dan sulit.

Baru-baru ini, sebuah desa di Tepi Barat menjadi saksi pengusiran massal yang dilakukan oleh pasukan Israel. Warga desa, yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan penggembala, terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka dengan membawa sedikit harta benda yang bisa diselamatkan.

Komunitas internasional telah mengecam tindakan pengusiran ini. Organisasi hak asasi manusia dan badan-badan PBB telah meminta Israel untuk menghentikan pengusiran dan menghormati hak warga Palestina. Namun, seruan-seruan ini sering kali tidak mendapatkan respons yang memadai dari pemerintah Israel.

Dampak emosional dan psikologis dari pengusiran ini sangat berat. Warga Palestina yang diusir merasa dikhianati dan ditinggalkan, tidak hanya oleh pemerintah Israel tetapi juga oleh komunitas internasional yang tampaknya tidak mampu memberikan perlindungan yang cukup.

Upaya untuk menemukan solusi bagi warga yang diusir masih terus berlangsung. Beberapa kelompok hak asasi manusia bekerja untuk menyediakan bantuan hukum dan advokasi bagi warga yang terkena dampak. Sementara itu, organisasi bantuan berusaha menyediakan kebutuhan dasar bagi mereka yang telah kehilangan segalanya.

Pengusiran warga Palestina dari tanah kelahiran mereka adalah manifestasi dari tragedi yang berkelanjutan dalam konflik Israel-Palestina. Sampai solusi yang adil dan berkelanjutan ditemukan, warga Palestina akan terus menghadapi ketidakpastian dan penderitaan. Dunia harus memperhatikan dan bertindak untuk menghentikan siklus pengusiran dan penderitaan ini.

Perjuangan warga Palestina untuk hak dan tanah mereka terus berlangsung, di tengah harapan yang semakin luntur dan realitas yang semakin pahit. Komunitas internasional harus meningkatkan upaya mereka untuk mendukung penyelesaian yang adil dan menghentikan pengusiran paksa yang menghancurkan kehidupan dan masa depan warga Palestina.

Inilah Daftar Negara Yang Berhenti Beri Dana Ke Badan PBB Palestina

journalofserviceclimatology.org –

Sejumlah negara pemberi utama bagi Badan PBB yang menangani pengungsi Palestina, UNRWA, telah menyatakan penghentian sementara pendanaan mereka menyusul tuduhan dari Israel bahwa beberapa staf UNRWA terlibat dalam serangan oleh Hamas pada 7 Oktober. UNRWA telah memberhentikan beberapa staf terkait tuduhan tersebut dan berjanji untuk melakukan investigasi yang mendalam, meskipun detail tuduhan tersebut belum dijelaskan secara rinci.

Israel juga telah berkomitmen untuk mengakhiri operasi badan tersebut di Gaza setelah konflik.

Berikut adalah rangkuman dari pernyataan negara-negara yang telah menangguhkan pendanaan karena tuduhan tersebut, yang dilaporkan oleh AFP pada hari Minggu (28/01/2024):

  • Australia: Menteri Luar Negeri Penny Wong menyatakan bahwa meskipun UNRWA melakukan “pekerjaan yang sangat penting dan menyelamatkan nyawa,” Australia akan “sementara menunda penyaluran dana yang baru-baru ini.”
  • Kanada: Menteri Pembangunan Internasional Ahmed Hussen mengumumkan bahwa Kanada “akan menangguhkan sementara pendanaan tambahan kepada UNRWA selama dilakukan penyelidikan menyeluruh atas tuduhan-tuduhan tersebut.”
  • Finlandia: Memiliki perjanjian empat tahun untuk memberikan lima juta euro setiap tahun kepada UNRWA, telah menangguhkan pembayaran mereka dan menyerukan “penyelidikan yang independen dan menyeluruh.”
  • Jerman: Mengumumkan penangguhan pendanaan pada hari Sabtu, menyatakan bahwa Jerman akan “untuk sementara menahan persetujuan untuk sumber daya tambahan,” sampai tuduhan itu diselesaikan.
  • Italia: Menteri Luar Negeri Antonio Tajani mengatakan bahwa Italia juga akan menghentikan pendanaan.
  • Swis: Kontribusi tahunan sekitar 20 juta franc Swiss diberikan kepada UNRWA, dan dinyatakan tidak akan ada keputusan mengenai pembayaran tahun 2024 sampai tuduhan tersebut diklarifikasi.
  • Belanda: Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerjasama Pembangunan Geoffrey van Leeuwen mengumumkan pembekuan pendanaan sementara penyelidikan sedang berlangsung.
  • Inggris: Pemerintah Inggris mengaku “terkejut dengan tuduhan” yang disampaikan oleh Israel dan akan “menghentikan sementara pendanaan di masa depan” selagi Kementerian Luar Negeri meninjau klaim tersebut.
  • Amerika Serikat: Departemen Luar Negeri menangguhkan pembayaran dan menyambut baik pengumuman PBB mengenai penyelidikan atas tuduhan tersebut.

UNRWA, melalui Kepala UNRWA Philippe Lazzarini, telah berjanji akan bertanggung jawab, termasuk penuntutan pidana, bagi setiap staf agensi yang terbukti terlibat dalam “aktivitas teror”. Sekjen PBB Antonio Guterres telah berkomitmen untuk melakukan “peninjauan yang mendesak dan independen terhadap UNRWA,” menurut juru bicara Stephane Dujarric.

Lagi-Lagi Krisis Laut Merah Makan Korban, Rusia

journalofserviceclimatology.org – Krisis yang sedang berlangsung di Laut Merah, yang melibatkan serangan-serangan oleh pemberontak Houthi dari Yaman terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan itu, telah menimbulkan dampak yang semakin luas. Kini, konflik tersebut telah mengarah pada insiden yang melibatkan kepentingan Rusia.

Menurut laporan terkini, kapal tanker minyak Marlin Luanda, yang dijalankan oleh Trafigura, menjadi sasaran serangan rudal oleh Houthi di Teluk Aden. Kejadian ini berlangsung setelah kapal tersebut transit melalui Laut Merah pada hari Jumat, tanggal 26 Januari 2024. Kapal tanker yang berlayar dari Yunani menuju Singapura itu terlihat terbakar pasca-serangan.

“Tim penanggulangan kebakaran telah dikerahkan untuk menangani serta mengontrol api yang berkobar di salah satu tangki kargo di bagian kanan kapal. Kami sedang menjalin komunikasi dengan kapal dan secara saksama memonitor kondisinya. Beberapa kapal militer yang berada di dekatnya sedang bergegas ke lokasi untuk memberikan dukungan,” demikian pernyataan yang dirilis Trafigura melalui situs resminya.

Krisis di Laut Merah telah mengakibatkan serangan terhadap Marlin Luanda, sebuah kapal tanker yang mengangkut nafta dari Rusia, bahan mentah yang sering digunakan dalam produksi plastik dan petrokimia. Menurut perwakilan dari perusahaan yang mengoperasikan kapal, kargo tersebut dimuat melalui proses transfer antar kapal di perairan dekat Teluk Lakonikos, Yunani bagian selatan.

Pemberontak Houthi dari Yaman telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tersebut, dalam sebuah tindakan yang mereka lakukan sebagai bagian dari serangan yang lebih luas terhadap kapal-kapal yang melewati jalur air strategis ini. Serangan-serangan ini telah intensif sejak konflik Israel-Palestina meningkat.

Sebagai respons terhadap ancaman ini, sejumlah operator pelayaran telah menghentikan perjalanan mereka melalui Laut Merah.

Baru-baru ini, koalisi yang dipimpin oleh Amerika Serikat telah mengirim pasukan angkatan laut ke wilayah ini untuk memastikan keamanan pelayaran, seraya melancarkan serangan terhadap target-target Houthi di Yaman. Amerika Serikat dan Inggris juga telah memberlakukan sanksi terhadap kelompok ini, yang telah memicu balasan serangan terhadap kapal-kapal yang terkait dengan kedua negara tersebut.

Dalam wawancara dengan media Rusia, Izvestia, awal bulan ini, Houthi menegaskan bahwa mereka tidak akan menyerang kapal-kapal yang terkait dengan Rusia, dengan menyatakan bahwa mereka berkomitmen untuk memastikan keselamatan pelayaran di Laut Merah, yang merupakan jalur penting bagi negara mereka.

Sementara itu, Moskow belum memberikan tanggapan atas serangan terakhir ini. Pemerintah Rusia telah secara konsisten menyerukan kepada Houthi untuk menghentikan serangan mereka dan mengecam tindakan militer yang dilakukan oleh AS dan Inggris, dengan pernyataan bahwa hal tersebut hanya akan memperparah konflik di wilayah itu.